Friday, December 10, 2010

POHON EKSISTENSI IBNU ‘ARABI (Bagian 3)

Sungguh kebanyakan mereka juga termasuk diantara segala sesuatu yang terjadi ketika Pencipta melafalkan kata kun dan kata itu menjadi pusat dari semua alam semesta yang tercipta, berputar sekitarnya; dan ketika dari pusatnya tumbuh Pohon Eksistensi, kata kun menjadi benih yang darinya itu tumbuh.

Jika seseorang ingin memvisualisasikan semua, ada suatu kemenyeluruhan- segala sesuatu yang menjadi eksis dan apa yang menyebabkan mereka semua terjadi, perbuatan mereka serta perkataan mereka, hidup mereka, keadaan mereka, dan interaksi mereka – apakah ada perumpamaan yang lebih baik daripada sebuah pohon, Pohon Eksistensi? Pohon yang mengandung semua yang terjadi dalam alam semesta, yang tercipta dari sebuah benih tunggal, terbuat dari kalam Tuhan kita, yang berfirman kun!
Sebagaimana Pohon tumbuh, segala sesuatu muncul darinya. Sesuatu menjadi lebih, sesuatu menjadi kurang, sebagian terlihat, dan sebagian lainnya tersembunyi: keimanan dan kekufuran, buah dari amal-amal yang baik, keadaan kemurnian, suara dan makna dari perkataan yang indah, keinginan-keinginan dan harapan yang baik, sifat yang baik dan perilaku mulia, kepekaan pada keindahan, dan pengetahuan akan realitas adalah sebagian dari daun-daun dan bunga-bunganya. Tingkatan-tingkatan pencapaian kesalehan, persetujuan hak orang-orang yang benar, kedekatan pada Tuhannya dari mereka yang mengenal Tuhannya, dan kesirnaan api cinta dari para pecinta Allah- ini adalah sebagian dari buah-buah Pohon Eksistensi.
Pertama, tiga tunas tumbuh dari benih suci Pohon tersebut. Satu dari tunas-tunas tersebut condong ke kanan dan tumbuh dalam arah tersebut. Itu akan menghasilkan buah-buah

dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu! (Q.S Al-Waqi’ah, 27)

Tunas lainnya tumbuh ke kiri

… dan golongan kiri; alangkah sengsaranya golongan kiri itu
(surat Al-Waqi’ah,41)

Tunas yang ketiga tumbuh tegak lurus, menjulang tinggi, dan

Dan orang-orang yang terdahulu, merekalah yang paling dahulu. Mereka itulah orang-orang yang dekat kepada Allah
(Q.S Al-Waqi’ah, 10-11)

Dan Pohon Eksistensi tumbuh, mencapai surga yang jauh. Dahan-dahan yang lebih bawah menjadi alam materi; dahan-dahan yang lebih tinggi menjadi alam ide dan makna dari segala sesuatu. Alam dimana kita hidup hanyalah kulit kayu Pohon tersebut; inti bagian dalam adalah tempat dimana ruh bersemayam. Dan getah yang memberikan kehidupan berjalan dalam pembuluh darahnya, kekuatan yang membuatnya tumbuh dan memberikan bunga dan buah adalah alam yang tidak diciptakan, alam semesta mahakuasa, jabarut, dimana rahasia kata kun tersembunyi. Itu adalah alam dimana hakikat terjaga. Apa yang kita lihat adalah sifat-sifat dan nama-nama, dimana tindakan adalah wakil-wakilnya.

Pohon Eksistensi terlindungi dalam sebuah dinding yang mengelilinginya pada sisi kanan dan sisi kirinya, didepan dan dibelakangnya, diatas dan dibawahnya. Yang paling jelek dari yang terjelek adalah batas terbawahnya; yang paling baik dari yang terbaik adalah pada tingkatan yang paling tinggi. Di sekitar Pohon yang dirahmati ini, sejauh mata memandang, adalah bintang-bintang di langit, segala sesuatu mengelilingi kita, nama-nama yang dengannya mereka dipanggil, cara mereka berperilaku, dan apa yang mereka perbuat terhadap satu sama lain. Tujuh langit adalah seperti daun-daunnya, yang memberi bayangan; bintang-bintangnya seperti bunga-bunganya. Malam dan siang bagaikan dua penutup, salah satunya hitam dan yang lainnya putih, yang dengannya Pohon tertutupi dua kali dalam sehari. Ketika tirai hitam menyelimutinya, maka hilanglah dari pandangan. Ketika terselimuti dengan yang putih, ia akan memberikan cahaya pada mata, yang ingin melihat pemandangan indah.

‘Arsy Ilahi adalah tempat dimana Pohon Eksistensi menerima semua yang diperlukan. Inilah harta yang tak terbatas yang mempertahankan kelangsungan hidupnya; sebuah sumber kekuatan yang tak pernah habis yang melindunginya. Itu adalah tempat dimana para malaikat, para pelayan Pohon Eksistensi, mereka yang memeliharanya, bersemayam.

Dan engkau akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy, bertasbih sambil memuji Tuhannya…
(Q.S Az-Zumar, 75)

Maka para malaikat menghadap ‘Arsy dan menerima apa saja yang diperlukan. Dimanapun mereka berada, mereka terbang di sekitarnya dan menunjuk ke arahnya.

Kapan saja sesuatu gagal dalam keharmonisan ilahiah dari Pohon eksistensi, kapan saja sesuatu yang tak terduga terjadi, para malaikat mengangkat tangan kepada ‘Arsy, mengharapkan ampunan untuk kegagalan mereka dalam melayani dan memohon pertolongan dari Pembuat Pohon, karena tidak ada tempat kembali selain pada-Nya. Dan Dia yang membuat Pohon tidaklah ada disini atau disana, tapi ada dimana-mana. Dia tidak dapat terlihat atau diketahui – meskipun segala sesuatu yang diketahui, walaupun bukan Dia, adalah dari-Nya. ‘Arsy Ilahi adalah manifestasi dari Kekuatan-Nya, bukan dimana tempat Dia bersemayam.

Bila ‘Arsy bukanlah sebuah arah yang kepadanya para malaikat menghadapkan wajahnya ketika mereka melayani Pohon Eksistensi atas nama-Nya dan untuk kepentingan-Nya, mereka belum akan mengetahui kemana mereka berbalik untuk meminta pertolongan dan memberikan kepatuhannya, dan mereka tidak akan terjerumus dan tersesat. Maka Pencipta segala sesuatu menciptakan ‘Arsy Ilahi, bukan sebagai sebuah tempat untuk Hakikatnya bersemayam, tapi bagaikan sebuah sumber kekuatan untuk ciptaan-Nya berpaling padanya, untuk menerima apa saja yang mereka butuhkan.

Bersambung ke bagian 4
* *
Dari buku The Tree of Being (Shajarat al-Kawn) An Orde to the Perfect Man karangan Ibn’ Arabi. Diterjemahkan oleh AAUWABDDAM (Ayatullah Al Uzma Wa’Arif Billah Deddy Djuniardi Antafani Masyhadi).

Nyala – Nyala Abadi


aku adalah obor-obor berminyak

dan Engkaulah sang api

bakarlah aku menurut kemauanMu sendiri

hingga lenyaplah aku dan berkobarlah Engkau sendiri

minyak-minyak ini adalah khasanah

gambar para Nabi ada di dalamnya

bahkan kecupan Muhammad Sang Kekasih

dengan cahaya dadanya nan penuh kasih

Husein Mansur pun kan kaulihat memercik

dari tiap goresan ini

Attar Naisapuri pun kan kaulihat

melewati tujuh kota-kota cinta

dalam ribuan rubaiat

di mana aku sekarat

dalam milyunan rubaiat

di mana Andamajnun akan sekarat

terbakar adalah menjadi abu

lenyap ke dalam galau Sang Api

Cinta adalah menjadi satu

lenyap ke dalam Zat Azali

~ ~ ~

al-faqir memuji Ia Yang Maha Kaya (Al-Ghaniyyu), hingga atas ke-kayaan-Nya dan kemuliaan ‘izzah-Nya, mengalir melalui bayangan fatamorgana ini Samudra Keindahan-Nya.

al-faqir yang dho`if memuji Ia Yang Maha Semarak dan senantiasa dipenuhi Keagungan, higga atas Keagungan-Nya dan kesemarakan-Nya, ter-wujud-lah wewangian al-jannah al-’adn di hati faqir yang mahadho’if.

al-faqir yang buta (‘umyun) memuji Ia Yang Maha Melihat dan senantiasa Melihat dengan Zat-Nya, hingga atas Keawasan-Nya, ter-lihat-lah seluruh alam samudra keindahan-Nya, dan Yaa Bashiiru, tunjukkanlah padaku apa yang kau maksudkan dengan innahu ‘aliimun bidzaatish-shuduur (sesungguhnya Dia mengetahui apa-apa yang ada di dalam dada)

al-faqir yang terhina (adz-dzaliil) memuji Ia Pemilik Segenap Kemuliaan (Yaa Dzal-’izzati jamii’aa), sehingga Jubah Kemuliaan-Nya Yang dipenuhi Ronce-Ronce Keagungan ditutupkan pada tubuh faqir yang penuh kusta ini.

al-faqir yang sesat memuji Ia Sang Maha Pemberi Petunjuk, – Yaa Haadiy-, sehingga bersinar binarlah Cahaya petunjuk sebagaimana yang telah Engkau firmankan pada kekasih – Mu, wa wajadaka dhoollan fa haadaa (dan Ia temukan engkau dalam keadaan sesat (bodoh) maka Ia tunjuki).

al-faqir yang senantiasa berada dalam hakikat kegelapan (azh-zhulumaat) memuji Sang Cahaya , – Yaa Nuur-, yang Cahaya-Nya tampak dalam Segala. Duhai Cahaya, pe-wujud segala yang maujud.
al-faqir yang senantiasa berada dalam ketakutan (al-khouf) memuji Sang Maha Pemaaf dan Sang Maha Kasih, – Yaa Dzal-’afwi war-rahmah-, yang Ampunannya lebih luas dari kedua dunia dan Senantiasa Menatap hamba – Nya nan faqir dengan Sinar Kasih.

al-faqir yang senantiasa berada dalam geletar ketakutan akan keadaan akhir, sakaratul-maut dan api neraka perpisahan abadi dengannya, memuji Sang Maha Cantik, Al-Jamiil, yang tiada akan pernah berkurang walau se-trilyun faqir kusta seperti daku menatap Wajah-Nya, sebagaimana yang Ia firmankan, fa innamaa tuwalluu fatsamma wajhullah.

al-faqir yang senantiasa ada dalam lautan kusta kehinaannya memuji Ia Dengan Segenap Sifat-Sifat Kamaliyyah-Nya, Dikaulah Maha Mentari Malam, Dikaulah Tambatan hati Para Pencari, Dikaulah Ash-Shomad yang senantiasa Satu Tiada Terjangkau, Dikaulah Yang Berbicara di Segala Tempat, Dikaulah Yang Berpendar di Segala Waktu, Dikaulah Biji Mata Hasrat, Dikaulah Sari-Sari Qaf (qudrah) dan Kaf (kun fayakun), Dikaulah Penuang Anggur dan akulah sang pemabuk, Dikaulah Penjaga dan Yang Senantiasa Terjaga. Engkau Sendirian. Sempurna Sendirian. Bercahaya Sendirian. Bertahta Sendirian. Kesepian Sendirian. OO …. Tuhan.
madah pujian si kusta ini, dengarlah Wahai Tuhan Segala Ruang dan Segala Waktu, Wahai Tuhan Segala Jantung dan Urat Lehar, Wahai pendegup hati-hati nan maha lemah ini.

ada-pun al-hikmah , tentu adalah milik mukmin, nan konon hilang. Dan sungguh Ia telah mengaruniakannya pada Lukman, para wali dan sekalian para Nabi Yang Mulia (a.s.). Maka apakah hikmah itu?

Konon, ada seorang ‘arif besar dari negeri Yunani, Hermes namanya. Sebagian orang mengatakan, Hermes tak lain adalah YM. Nabi Idris (a.s.). Ilmu Nabi Idris demikian tinggi, dan tiada terjangkau oleh para ‘urafa lain. Maka terpecahlah Samudra Ilmu beliau ke dalam dua dunia; tradisi para sufi Persia dan tradisi falsafah Yunani. Baik sufi maupun filsof mencari sophia. Maka apakah sophia itu?

Bagi sufi sophia adalah terbakar lenyap dalam Samudra Nyala Asmara Tuhan. Terbakar lenyap tanpa sisa. Seperti abu – abu yang beterbangan. Atau buih ombak nan melenyap dalam palung samudra. Tidak ada diri. Apa-lagi maqam – maqam ruhani ? Kemuliaan hanya-lah untuk Tuhan Semata.

Bagi filsof sophia adalah mengetahui seluruh yang memiliki wujud sebagaimana ada-nya, dan artinya mencapai Kebijakan Tertinggi. Jika para filsof menatap ke segala arah, mereka hanyalah ingin menatap Wajah Sejati Hakikat Segala Yang Ada ini.

Para sufi bergolakan dengan ribuan jubah-jubah yang diwariskan dan amanat-amanat yang diwasiatkan. Hasan Basri, Al-Junaid, Husein bin Mansur Al-Hallaj, Fariduddin Attar Naisaburi, Jalaluddin Rumi, Sanai, ‘Ibn ‘Arabi.

Para filsof-pun mengalir bergelombang dengan kapal – kapal yang kokoh menyeberangi Samudra Realitas. Socrates, Aristoteles, Plato, Al-Farabi, ‘ Ibn Sina, Muhammad Bahmaniar, dan lain-lain.

Gayung berayunan, kata pun bersambut. Yang Mulia, Sang Guru Cahaya Syaikh Syihabuddin Suhrawardi, dengan jubah tasaufnya membawa obor – obor alam al-mitsal ( baca juga ; archetype) dari Plato, menorehkan hikmah al-’isyraqiyyah (baca : Teosofi Cahaya). Sang Guru Cahaya hampir – hampir menemukan untaian mata rantai Nabi Idris (a.s.), bergabung kembalinya sufi dan filsuf.

Dan dari Isfahan, kemudian muncullah Mir Damad dan muridnya yang paling ternama Sadrul-Muta`allihiin Mulla Sadra, yang dengan kekokohan logika bak Sang Guru Pertama Aristoteles mensintesakan seluruh ajaran inti tasauf dan falsafah dalam kerangka Wahyu, berdasarkan Qur’an dan Sabda Rasul. Maka ajarannya bukan tasauf bukan pula filsafat, tapi adalah al-hikmah.

apa pun , faqir hanya ingin mengucapkan sebesar-besar rasa terima-kasih pada mereka semua, Sang Nyala-Nyala Abadi, para pecinta Tuhan sejati. Semoga Tuhan Yang Maha Baik mengumpulkan diri faqir dalam debu – debu mereka semua, dan debu – debu kaki para Shiddiqiin pengikut sejati Para Nabi.

duhai Tuhan Pujaan Hatiku, kabulkanlah permohonan hamba yang tak punya apa-pun kecuali harapan pada Mu jua.

POHON EKSISTENSI IBNU ‘ARABI (Bagian 4)

Dia menciptakan mahluk, bukan karena Dia membutuhkan padanya, tapi supaya Sifat-sifat-Nya terlihat dan Nama-nama-Nya yang indah diketahui.
Satu dari Nama-nama-Nya adalah yang Maha Pemaaf: karena itu Dia menciptakan sesuatu yang akan menerima maaf-Nya. Satu dari Nama-nama-Nya adalah yang Maha Rahman. Satu dari nama-nama-Nya adalah Yang Maha Rahim. Karena itu Dia menciptakan seseorang yang ada dalam keperluan dan kebutuhan-kebutuhannya: untuk memanifestasikan kasih sayang-Nya pada mereka.

Semua dahan Pohon ini menghasilkan buah yang berbeda. Karena itu setiap yang diciptakan senantiasa berbeda antara satu dan yang lainnya, juga demikian dengan apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka layani. Ini adalah perbedaan-perbedaan dalam penciptaan seperti banyaknya Sifat-sifat Dia yang menciptakannya. Maka segala sesuatu dari Keindahan Nama-Nama dan sifat-sifat-Nya termaterialisasi dan termanifestasi.

Dia menciptakan para pendosa, dan kesalahan yang mereka perbuat, dan taubat mereka, dan dengan demikian termanifestasilah sifat Maha Mengampuni.Dia menciptakan kebaikan dan amal-amal mereka, dan menebarkan rahmat-Nya atas mereka. Dia menciptakan hamba-hamba-Nya yang taat dan melimpahkan Rahmat-Nya pada mereka. Dia memanifestasikan keadilan-Nya kepada para pembangkang dan kemurkaan-Nya atas orang-orang yang tak beriman.
Meskipun manifestasi sifat-sifat-Nya dalam ciptaan-Nya tidak melahirkan kesamaan dengan-Nya atau menempel pada-Nya, bahkan tidak dekat dengan-Nya; semuanya dari Dia, tapi bukan Dia. Dia selalu ada, ketika tiada sesuatu pun yang mengada. Dan ketika Dia menciptakan alam semesta, tidaklah Dia berkembang atau memperoleh sesuatu pun. Jika semua akan sirna, Dia tidak akan kehilangan apa pun. Dia ada sekarang sebagaimana Dia ada dulu dan selamanya akan ada.

Meskipun Dia tidak bersama dengan manifestasi-Nya dalam sifat-sifat sesuatu yang Dia ciptakan, demikian pula Dia tidak terpisah dari sesuatu yang datang dari-Nya. Karena persatuan dan perpisahan adalah tindakan-tindakan milik mahluk yang telah maujud, bukan pada Dia Yang Maha Wujud Yang Kekal, Yang Unik dan Sendirian.Persatuan dan perpisahan melibatkan gerak menuju dan menjauh dari satu dan lainnya. Pergerakan ini melibatkan perubahan ruang dan waktu serta keadaan, dan bahkan ketidakmunculan. Semua ini adalah sifat-sifat ketidaksempurnaan, sedangkan Pencipta semuanya adalah Tunggal, Unik, Kekal dan Sempurna.

Allah menciptakan Lauhul mahfudz dan Pena untuk menuliskan peraturan-peraturan kerajaan-Nya yang universal, yang memuat semua keputusan-keputusan, ketetapan-ketetapan, dan peraturan-Nya tentang segala sesuatu yang telah diciptakan,yang akan diciptakan, yang akan mati dan musnah, yang bertahan, pahala, hukuman yang patut diperoleh dan yang akan menerimanya.
Kemudian Allah membuat batasan yang tak satu mahluk atau pengetahuan pun pernah bisa melampauinya dengan menanam Sidratul Muntaha diatas Tujuh Langit.

…Sidratul mutaha yang paling jauh
(Q.S An-Najm,14)

Semua yang datang dari Allah, dan semua yang dikirim dari bawah, berhenti disini. Sidratul Muntaha adalah dahan yang paling tinggi dari Pohon Eksistensi. Di bawah bayang-bayangnya adalah para malaikat yang menyampaikan apa yang datang dari Allah kepada yang dibawahnya, dan mengirimkan kepada-Nya apapun yang sampai pada mereka dari semua mahkluk dibawahnya. Pada dahan tersebut sebuah salinan dari apa yang tertulis dalam Lauhul mahfudz menggantung. Apapun yang terjadi pada Pohon Eksistensi tidak dapat melampaui titik tersebut. Yang tumbuh, yang matang, yang busuk tetap tinggal dibawahnya.

Semua dalam ciptaan mempunyai maqam, sebuah tempat yang terbatas yang diketahui, suatu bentuk yang telah ditentukan sebelumnya. Semuanya mempunyai takdir yang menuntun kehidupan mereka, karena

Tidak ada satu pun diantara mereka melainkan masing-masing mempunyai kedudukan yang telah ditentukan
(Q.S. Ash-Shaffat, 164)

Tidak ada buah-buahan dari Pohon Eksistensi tersebut yang dapat tumbuh diluar tempat yang telah ditentukan. Apakah itu cantik atau jelek, besar atau tak berarti, mewah atau sederhana, aneh atau biasa, ketentuan dari masing-masing ditulis dalam salinan Lauhul Mahfudz yang menggantung pada dahan tersebut.

Dan diletakkanlah kitab…kitab apakah ini! tidak ada yang tertinggal apakah yang kecil maupun yang besar kecuali tercatat semuanya
(Q.S Al-Kahf, 49)

Tidak ada yang tidak tercatat apa pun yang tumbuh pada Pohon tersebut, juga tidak ada apapun yang terbuang. Maka Tuhan telah menetapkan bahwa buah-buahan Pohon tersebut disimpan dalam dua tempat berbeda, dan menyebutnya dengan Surga dan Neraka. Buah yang murni, yang tidak cacat, dan indah ditempatkan di Surga yang tinggi:

Sesunggunya catatan orang-orang yang benar ada di tempat yang tinggi
(Q.S Al-Mutaffifin, 18)

Dan buah-buahan yang busuk disimpan di Neraka bawah :

Sesungguhnya catatan orang-orang yang durhaka ada di penjara neraka
(Q.S. Al-Mutaffifin, 7)

Surga ada di sisi kanan gunung dimana Tuhan berbicara kepada Musa, dimana Orang-orang yang dirahmati pada sisi kanan bertempat tinggal

Dan Neraka ialah

…pohon Zaqqum, yang merupakan makanan orang berdosa
(Q.S. Ad-Dukhan, 43-44)

…pohon yang terkutuk dalam Al-Qur’an
(Q.S Bani Isra’il, 60)

Dimana orang-orang menderita pada sisi kiri bertempat tinggal.

Dunia yang kita miliki, yang didalamnya kita tinggal, adalah sebuah tempat dimana Tuhan memperlihatkan bunga-bunga pilihan Pohon Eksistensi, setiap orang dipelihatkan hanya untuk sementara saja. Dan Dia telah menciptakan alam berikutnya, Hari Akhir, untuk menyimpan buahnya yang dipelihara dengan abadi. Dinding, batas untuk melindungi Pohon Eksistensi, mengelilinginya, sebagaimana

Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu
(Q.S. Fusshilat, 54)

Dan Dia meletakkan lingkaran disekitarnya, dengan demikian tidak ada sesuatu pun kecuali Dia yang dapat menyentuhnya.

Sesungguhnya Allah menetapkan apapun yang Dia kehendaki
(Q.S Adz-Dzariyat, 1)

….dan berbuat apa yang Dia kehendaki
(Q.S. Ali ‘Imran, 39)

Ketika kebenaran dari pohon tersebut berakar kuat dan dahan-dahannya telah sepenuhnya terbentuk, tumbuh ke segala arah, karena

Hanya pada Tuhanmu lah tujuan itu
(Q.S An-Nazi’at, 44)

Pohon tersebut tumbuh sehingga bagian depan mencapai bagian belakang, dan ujungnya mencapai permulaannya. Bukankah Allah berkata :

Untuk apa pun yang Kami kehendaki, tidak lain Kami hanya mengatakan Terjadilah (Kun) dan jadilah ia (yakun)
(Q.S. An-Nahl, 40)

Dengan demikian dimulai dengan perintah ilahiah Jadilah, dan diakhiri dengan Menjadi. Tak menjadi masalah seberapa banyak dahan yang ia punyai, ia hanya mempunyai satu akar, tumbuh dari sebuah benih tunggal yang dinamakan kun.
Maka, jika kamu bersungguh-sungguh melihat dan mencari realitas, kamu akan melihat segala sesuatu saling berkaitan dan sesungguhnya satu. Pohon surgawi yang disebut Tuba yang tumbuh di Surga terhubung dengan akarnya pada pohon beracun Zaqqum yang tumbuh di Neraka. Dinginnya angin sepoi-sepoi Qatb bercampur dengan panas api neraka dari angin panas membara Simum. Bayangan maqam terakhir yang menyegarkan di Surga untuk yang terbaik dari kita terhubung dengan asap hitam berkabut Neraka dimana yang terburuk dari kita akan pergi menujunya.

Dengan demikian semua akan menerima apa yang telah ditetapkan bagi mereka dari sumber yang sama. Sebagian minum dari cangkir yang terbaik untuk mereka; sebagian minum dari cangkir yang seharusnya tertutup rapat untuk mereka. Dan ada diantara mereka yang dilarang minum sama sekali.

Ketika seseorang yang telah diberi eksistensi mulai melahirkan eksistensi baru yang datang dari ketiadaan, Allah meniupkan pada mereka Napas Kekuatan-Nya, memberi makan mereka dengan gizi dari Kebijaksanaan-Nya, dan mencuci mereka dengan hujan dari awan-awan Kehendak-Nya. Ketika semua yang dirahmati ini menyentuh Pohon Eksistensi, dahan-dahannya melahirkan buah-buahan yang telah ditetapkan. Kemudian sesuai dengan sifat alamiah mereka, kesehatan dan kesakitan menimpa mereka.

Alam semesta tumbuh dari dua konsonan kata Ilahiah kun. Seseorang mendapatkan cahaya dan lainnya kegelapan. Semua kebaikan datang dari cahaya tersebut dan semua yang jahat datang dari cahaya tersebut, maka hanya kebaikan datang darinya, dan

Mereka tidak mengingkari Allah yang dengannya Dia perintahkan, tapi mereka berbuat sesuai yang diperintahkan.
(Q.S At-Tahrim, 6)

Risalah Derita : Tentang Kesedihan Wujud

Wujud yang Maha Luas Tiada Terbatas. Ia – lah wujud itu sendiri . Wujuudun bima huwa wujuudun. Atau, wujud qua wujud. Tak dibatasi oleh apa pun kecuali oleh al-’adam al-muthlaq (baca: ketiadaan mutlak atau nothingness). Sehingga benar – benar batas ini, -yaitu al-’adam al-muthlaq-, sama sekali tidak mempunyai keberadaan (baca : efek) apa pun sehingga bisa (baca : berpotensi) untuk membatasi wujud.

Alam yang demikian semarak adalah kumpulan sesuatu – sesuatu yang berefek satu sama lain. Tiap semua hal yang memiliki wujud mesti berefek. Dan tidak dikatakan berefek melainkan dirasakan efeknya oleh yang lain. Dan kesaling-kelindanan, atau kesalinghubungan , efek – efek dalam sekalian alam ini memestikan satu titik konvergen tempat semua terhubung, tempat semua bersatu. Satu titik yang seluas sekalian alam. Sekalian alam yang simpel, basith, sederhana, di mana seluruh efek realitas sekalian alam bermula. Dan ini lah wujuduun bima huwa wujuudun, atau wujud sebagaimana wujud itu sendiri. Wujud yang murni sebagaimana wujud yang murni itu sendiri. Wujud murni yang terlepas dari seluruh penyifatan (baca : pe-mahiyyah-an) apa pun atas dirinya. Wujud murni yang meliputi segala sesuatu , tanpa suatu persatuan . Bukankah Ia, wujud murni, adalah tempat bergantungnya semua mahiyyah ?

Maka, Dia (baca : huwa) – lah , – yang tak terpahami oleh siapapun karena dinyatakan oleh bentuk ketiga-, wujud murni yang tak ter – mahiyyah -kan (baca : tak tersifati) oleh akal siapapun. Dan jelas Dia, - wujud murni ini-, Tunggal. Jangan sebut satu. Karena satu bisa mendua bisa pula menjadi tiga. Bisa pula satu menjadi setengah, sepertiga dan lain – lain. Sedang wujud murni itu Tunggal, tak mungkin mendua tak mungkin pula menjadi tiga. Tidak mungkin pula ia menjadi setengah ataupun sepertiga. Ke – tunggal -annya adalah ahadiyyul ma’na. Sungguh benar apa yang telah dikatakan dalam Qur’an Suci, Qul huwalloohu ahad.

Wujud murni ada dengan sendirinya dan meng-ada-kan segala. Segala sesuatu memiliki wujud yang tunggal dan simpel. Dan ini – lah yang disebut dengan wahdatul-wujuud. Ke-tunggal-an wujud. Wujud secara hakiki adalah cahaya (nuur). Allahu nuurus-samaawaati wal-’ardh Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Cahaya tampak (efeknya) dengan sendirinya dan menampakkan (efek) selainnya. Maka demikianlah sifat swa-bukti (self-evident) dan sifat swa-manifestasi (self-manifestation) adalah hakikat Zat-Nya, wujud murni tiada terbatas.

Wujud murni – pun mesti menampakkan Lautan Kesempurnaan – Nya yang tiada terjangkau. Melodinya melankolis. Melodinya bak suara seruling perih Laila -Majnun. “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenali. Karena itu Aku ciptakan makhluk – makhluk, agar aku dikenali di dalam makhluk – makhluk tersebut.” Ungkapan swa-manifestasi Kesempurnaan-Nya ini demikian pedih dan merupakan hakikat wujud. Merupakan hakikat realitas. Merupakan hakikat ke-segala-an. Kesedihan azali wujud murni untuk dikenali memberikan berbagai drama kesedihan yang memuncak pada Lautan Manifestasi wujud di alam ini. Bahkan, Yang Terpuji (Muhammad) (S.A.A.W), Kekasih Tuhan – pun mengatakan maa ‘arrofnaaka bihaqqi ma’rifatik, belumlah aku kenali Engkau sebagaimana seharusnya Engkau harus dikenali. Maka siapa lagi yang dapat menghibur wujud murni dengan sebenar – benar pengenalan akan Khazanah Kesempurnaan -Nya Yang Tersembunyi?

mawar dan tulip – tulip nan ber-sedih-an
jangkar dan kelip bintang tak terjangkau
Wujud dan makhluk – makhluk nan ber-sedih-an
Wujud dan Gelora Puja tak terjangkau

Laila Majnun gadis pemuda
“rinduku pada bibir – mu, perih darah khayal-ku” kata Majnun
Musa dan Allah nabi dan Tuhan
‘ketika Aku Sakit, kenapa kau tak menjenguk – Ku” tanya Tuhan

Wujud murni sakit. Sakit – nya tiada akan tersembuhkan oleh obat apa pun. Karena Ia ingin dikenali dan bahkan para Nabi – Nya pun tak bisa mengenali – Nya dengan sebenar – benar pengenalan. Kesempurnaan wujud murni bak gelombang maha-dahsyat yang tak pernah mengecup palung – palung derita – Nya karena tak dikenali. Kesempurnaan wujud murni memiliki potensi tak hingga untuk dikenali, tapi tak pernah Ia benar – benar dikenali in actu. Maka Ia adalah perbendaharaan yang tersembunyi, -Lautan Kegemilangan yang dipenuhi potensi untuk dikenali-, yang ingin dikenali, – agar Kesempurnaan – Nya in actu dikenali-, namun tak pernah dikenali, – sehingga Sakit-lah Ia karena keinginan-Nya satu – satu – Nya tak tercapai.

Laisa kamitslihi syai`an. Sakit wujud murni sama sekali berbeda dengan sakit-nya makhluk. Karena wujud murni tak pernah membutuhkan selain diri – Nya sendiri. Dan memang tidak ada apa pun selain wujud murni. Tapi sakit wujud murni ini adalah keniscayaan dari Kesempurnaan – Nya sendiri yang tanpa batas. Sungguh, wujud murni bukanlah substansi ( baca: jauhar) bukan pula aksiden (baca ; ‘aradh) , sehingga benar – benar tak bisa dibandingkan dengan apa – pun dari sudut pandang apa – pun. Sakit wujud murni adalah hakikat Samudera Kesempurnaan – Nya Yang Tiada Berbatas, bergolak – golak dalam lautan Cahaya – Nya Sendiri, Ia memanifestasikan diri-Nya sendiri dalam segala arah dan segenap alam, dan Ia senantiasa menyempurnakan semua ciptaan – Nya terus menerus tiap saat tiap waktu di tiap ruang dan tiap alam apa pun . Sakit Tuhan adalah Kesempurnaan Tuhan Sendiri. Sakit Tuhan adalah Penciptaan terus-menerus (khalqun jadiidun) .

Sakit wujud murni adalah kesedihan Nama – Nama Tuhan yang menderita dalam ketaktahuan karena tak satupun yang menamakannya. Kesedihan ini diturunkan dalam nafas Tuhan (tanaffus) yang tidak lain adalah rahmat dan eksistensiasi (‘ijad). Dalam alam sirr atau alam al-asrar rahmat ini diturunkan dari dan untuk diri – Nya sendiri, – yaitu untuk Nama – Nama – Nya sendiri. Sakit wujud murni adalah Kegemilangan Cinta yang turun menjadi hakikat kerinduan yang memanifestasikan dirinya menjadi gerakan penciptaan wujud terus menerus merindukan manifestasi Nama – Nama – Nya yang baru. Inilah hakikat gerakan hasrat rindu (harakah syauqiyyah).

Wujud murni asli, real dan tunggal. Hanya wujud – lah yang benar – benar nyata. Sedang dalam sekalian alam (al – ‘alamiin ) ada banyak hal. Banyak sesuatu yang tidak tunggal. Kuda, manusia, benda, ruang, waktu, sebab – akibat, panas – dingin, yin – yang, keberadaan – ketiadaan dan lain -lain. Menatap semua realitas ini, pandangan yang benar hanyalah menatap satu wujud yang real. Dan kejamakan berbagai hal tidaklah real, ia hanyalah bayangan yang timbul dalam alam mental semua yang ber-fikir atau semua yang ber-persepsi. Dengan kata lain, kejamakan adalah serpihan – serpihan mahiyyah yang bertarian di alam khayal mutawahham . Ke-real-an wujud (‘ashalatul-wujuud) dan ke-khayalan mahiyyah membuat,- dalam pandangan makhluk yang telah cerah-, sekalian alam hanyalah Cinta, wujud disertai pembuluh – pembuluh keperihan rindu wujud atas Nama – Nama – Nya sendiri. Dan orang – orang beriman pun memasukkan keseluruhan hakikat diri – nya, -yang tak lain hanyalah salah satu dari Nama – Nama – Nya-, ke dalam Cinta kepada Tuhan.

Para Nabi dan para wali, manifestasi paling sempurna dari wujud murni, tidak pernah sekejappun terlengahkan dari memandang ke-tunggal-an wujud dalam segala. Bagi mereka, kembali ke alam kejamakan ( al-’alam al-katsrah) lebih menyakitkan dibandingkan dengan memasuki neraka dan merasakan panas siksanya Sabar yang tertinggi adalah sabarnya para Nabi dan para wali Allah untuk kembali ke alam kejamakan dan mengajak ummat manusia menuju ke-tunggal-an wujud. Bukankah Imam ‘Ali telah merintih dalam doa Kumail yang menunjukkan keadaan ini, wa hablii shobartu ‘ala harrinarika fa kaifa ashbiru ‘anin-nazhori ilaa karoomatik (Dan jika Engkau sabarkan aku atas menahan panasnya neraka – Mu, betapa mungkin aku bersabar dari melihat kemuliaan-Mu). Ketika seorang arif ditanya “Ke manakah engkau pergi setelah mengenal Tuhan?” Ia pun menjawab “Ke neraka”. Yang bertanya pun bingung, “Kenapa ke neraka?”. Orang arif itu pun menjawab, “ Jika aku tidak pergi ke neraka, maka siapakah yang akan mengajak Anda dan sekalian teman Anda menuju Ke – Tunggal- an Tuhan?”

Wujud murni yang meliputi segala, hakikatnya adalah Kesedihan wujud dan derita wujud yang ingin dikenali. Maka hakikat kesedihan, -perihnya Cinta dan Rindu akan Wajah Yang Maha Gemilang yang tak pernah tercapai-, memasuki pori – pori segenap atom di sekalian alam. Mengingkari penderitaan sebagai satu kemestian yang harus dilalui dalam kehidupan karena itu akan berakhir pada nihilisme. Kehilangan semua makna kehidupan. Kehilangan wujud semua yang ada, yang identik dengan kehilangan diri sendiri Seperti halnya para bikhsu,- yang raison de entree – nya dalam perjalanan ruhaninya adalah melenyapkan seluruh derita-, akhirnya mengklaim bahwa puncak kearifan adalah kekosongan atau kesunyaan atau nothingness? Tidak ada apa – apa? Tidak perlu apa – apa? Tidak mesti apa – apa? Segala adalah kesenyapan total? Betapa na`if – nya seluruh perjalanan mereka ! Alangkah bedanya mereka dengan ucapan seorang ‘Arif Besar abad ini , “ Kasihku, duhai Kasihku, aku sakit karena – Mu. Tapi akan sakitku ini ku-tak ingin Engkau sembuhkan.” Cobaan, pedih, derita sungguh adalah janji Allah bagi orang – orang beriman,- yang benar – benar mencintai – Nya.

Hakikat wujud murni, yaitu Cinta nan dipenuhi segenap pembuluh Rindu, meliputi segala yang ada. Cinta ilahi ini, ‘isyq, meliputi semua gerak dan perubahan, menyertai setiap tawa dan tangis, mengalun dalam setiap melodi dan debur – debur ombak, menakutkan jiwa – jiwa di setiap badai , membuat para ahli maksiyat menangisi dosanya dan merintih – rintih memohon ampunan -Nya, dan juga menyertai gemerisik ranting tempat hinggap para burung kutilang. Kata penyair,

Cinta membuat ombak – ombak berdeburan
Cinta membuat hati – hati berdesiran
Cinta membuat jantung asmara berdegupan
Sebagaimana kicauan kutilang bercengkerama

Cinta membuat mata nanar memerah, walau tidak
Cinta membuat pipi kuning memerah, walau tidak
Cinta membuat bibir merah bergeletaran, walau tidak
Sebagaimana jantung pisang hendak kaucari di batu intan

mungkin kaukira aku mabok mendengar salju, walau tak
mungkin kaukira aku menggigil merasa salju, walau tak
mungkin kaukira aku tersilaukan putih salju, walau tak
Sebagaimana bayi dan tetek ibunya, demikianlah aku menggigil karena Cinta

walau dicampur tetaplah murni
walau bersama tetaplah sunyi
walau bercengkerama tetaplah syahdu
Itulah Cinta pembuluh Rindu

bukanlah mawar tanpa onak dan duri
bukanlah cinta tanpa pembuluh rindu

bukanlah lautan tanpa ombak dan badai
bukanlah Hidup tanpa pedih dan duka

bukanlah hujan tanpa awan nan mendung
bukanlah bahagia tanpa tangis air mata

bukanlah intan tanpa jangkauan ribuan tahun
bukanlah insan utama tanpa ribuan derita

ayyub – ayyub dalam perahu
pedih dan kusta ayyub mendayu

tapi Muhamad dan Husein di dalam hu
tiada derita seperih Karbela

Cantiknya Wujud : Keindahan Nan Maha Indah (2)

ku pinta diKau dengan KesempurnaanMu, dan Yang Tersempurna dari SempurnaMu, dan sungguh seluruh SempurnaMu benar Sempurna
ku gapai diKau dengan KejelitaanMu, dan Yang Terjelita dari JelitaMu, dan sungguh seluruh JelitaMu benar Jelita
ku seru diKau dalam KeTinggianMu, dan Yang Tertinggi dari TinggiMu, dan sungguh seluruh TinggiMu benar Tinggi
ku seru diKau dalam KeSucianMu, dan Yang Tersuci dari SuciMu, dan sungguh seluruh SuciMu benar Suci

Mata berbinar mesra dan mulut dipenuhi dengan kulum senyum lembut. Redup cahaya mata menatapi Wajah Jelita Nan Molek Rupawan dan Pipi-Pipi Nan Senantiasa Memerah berpendaran. Belum lagi celak-celak keunguan, Oh, demikian IndahNya memukau Indah-IndahNya di hati peCintaNya yang mabuk dalam keIndahanNya.

Bila kekupu terbang dengan sayap sepasang
dan laron berkitar dengan sayap sepasang
pula Arkhoun menatap dengan mata sepasang
tapi Majnun menatap Layla dengan Layla seorang !

Demikanlah rintih pecinta, laa yunaalu dzaalika illa bi fadhlik, tak kan tercapai tatapan pada JelitaNya kecuali dengan KaruniaNya sendiri. Tak kan melihat KeindahanNya kecuali dengan KeindahanNya sendiri, JelitaNya kecuali dengan MolekNya sendiri, Lentik AlisNya kecuali dengan Hijau CelakNya Sendiri.

Duhai yang mengaruniai hambaNya dengan tatapan KepadaNya,
dan tiada tatapan KepadaNya kecuali dengan PenglihatanNya Sendiri.
Duhai yang mengaruniai hambaNya dengan pendengaran atas MerduNya,
dan tiada pendengaran atasNya kecuali dengan PendengaranNya sendiri.
Duhai yang mengaruniai hambaNya dengan jalan lurus KepadaNya,
dan tiada jalan lurus KepadaNya kecuali adalah Dia Sendiri.
Duhai yang mengaruniai segenap Kenikmatan pada hambaNya,
dan tiada Kenikmatan kecuali Dia Sendiri.

Maka sebagian orang katakan ku telah lihat Keindahan Tuhan di mana-mana. Betapa mungkin Tuhan dilihat oleh selain diriNya? Laa tudrikuhu al-abshooru wa huwa yudriku al-abshooro. Tak menyentuhnya (semua) penglihatan dan Ia menyentuh (semua) penglihatan. Mungkin inilah pandangan majazi atau khayali yang diibaratkan oleh Maulana Rumi dalam sya`irnya;

kefasihan burung-burung istana hanyalah pantulan suara;
di manakah perkataan burung Nabi Sulaiman
bagaimana kau akan mengenal kicau mereka,
jika kau tak pernah melihat Nabi Sulaiman sejenak pun
Jauh di seberang Timur dan Barat bertebaran sayap burung
yang lagunya menggetarkan hati yang mendengar
Ia terbang bolak-balik antara bumi dan ‘arasy Tuhan
bersama keagungan dan kemuliaannya

Maka Penatap Tuhan terdiam seribu bahasa, bagi mereka “aku” sama saja dengan “bukan aku”, karena tak ada apapun yang dapat disifatkan kepada ketiadaan. Bagi mereka “kutatap Tuhan” tak ada bedanya dengan “Tuhan menatap Tuhan”, yakni, “mereka” adalah ketiadaan sedang satu-satunya fa’il (pelaku) adalah Zat Yang Maha Kudus. Yaa man dalla ‘ala dzaatihi bidzaatihi. Wahai Yang Menunjukkan ZatNya dengan ZatNya.

Bak ufuk Tmur yang bertanya pada selatan, pula utara,
di manakah Mentari Terbit
Bak Samudera Raya yang bertanya pada sumur, pula kali,
di manakah Air Berada
demikian pula pecinta berkata Cinta, juga asmara,
padahal berkata Cinta pastilah sirna
juga para pemantik berkata Wujud, juga Sebab,
padahal berkata Wujud pastilah wujud

Ikal kekang “aku”, “kita”, “kamu” telah lenyap. Laso itu telah lenyap, dan demikianlah Jiwa Pecinta terlepas dari kepompong dan penjara alam material melesat menuju Jiwa nan Satu, Sang Pecinta, Sang Pendamba, Sang Perindu, yang turun dari Hadhrat Zat Suci ke Hadhrat Asma ke Hadhrat Sifat ke Hadhrat Af’al. Bagi para pecinta yang tak kenal timur dan barat, lenyaplah timur dan barat. Bagi para pecinta yang tak kenal kini dan esok, lenyaplah waktu baginya. Maka, man ‘arafa nafsahu, yakni bagi yang mengenal bahwa dirinya ketiadaan dan Tiada Selain Dia Semata, lenyaplah semua hal termasuk nama dan identitasnya sendiri, dan, faqod ‘arafa robbahu, Dia Mengenal Tuhannya dengan Tuhannya itu sendiri, yakni Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi, tak lain Dia Yang Zhohir dan Bathin, dan Yang Awal dan Yang Akhir, tak lain Dia Yang Maha Meliputi segala sesuatu Yaa Allah Karuniakan padaku tatapan KepadaMu dan Kemulaan Keterputusan kepada SelainMu, hingga dengan Pancaran wajahMu, tersingkaplah hijab-hijab CahayaMu. Amin.

wallohu a’lam bi ash-showwab

Tauhid for Teens : Bukti (1)

Manusia selalu mencari sebab-sebab dari setiap kejadian yang disaksikannya. Dia tidak pernah menganggap bahwa sesuatu mungkin terwujud dengan sendirinya secara kebetulan saja, tanpa sebab. Seorang sopir yang mobilnya mogok akan turun dari kendaraannya dan memeriksa kemungkinan sebab-sebab mogoknya mobil itu. Tidak akan pernah terpikir olehnya bahwa mobilnya akan bisa mogok manakala segala sesuatu berada dalam kondisi yang prima. Untuk membuat mobilnya bisa berjalan lagi, dia akan menggunakan cara apa pun yang bisa dilakukannya. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja menunggu mobilnya bisa berjalan lagi.

Jika seseorang merasa lapar, dia akan berpikir tentang makanan. Jika dia haus, dia akan memikirkan air. Jika dia kedinginan, dia akan mengenakan pakaian tambahan atau menyalakan api. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja sambil meyakinkan dirinya bahwa suatu kebetulan akan menyelesaikan masalahnya. Seseorang yang ingin mendirikan bangunan, meminta jasa seorang arsitek, dan para pekerja bangunan. Dia tidak akan pernah berharap bahwa keinginannya terlaksana dengan sendirinya.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.

Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”

Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau atau mengorganisasi eksistensi mereka.

Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”

Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”

Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?

Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau mengorganisasi eksistensi mereka.

Kita sendiri tidak memilih kemanusiaan kita atau karakteristik-karakteristik manusiawi kita; kita diciptakan sebagai manusia dan diberi karakteristik-karakteristik kemanusiaan tersebut. Sama halnya, akal kita tidak akan pernah bisa menerima bahwa semua wujud yang ada di alam semesta ini terwujud secara kebetulan saja, dan bahwa sistem wujud itu muncul begitu saja. Akal kita tidak bisa menerima bahwa sejumlah potongan batu bata telah berkumpul bersama-sama secara kebetulan dan dengan sendirinya untuk membentuk sebuah rumah. Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.

Menurut teori peluang, sebagai contoh, bila kita mengocok huruf yang tertulis dalam kertas masing-masing bertuliskan A, B, C hingga Z (ada 26 huruf). Kemudian kita ambil satu demi satu dan diletakkan di atas meja berurutan. Maka peluang kemunculan huruf-huruf tersebut berurutan ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ adalah kurang dari 0,0000000000000000000000000025 atau kurang dari seperempatratus trilyun trilyun.

Dalam tubuh manusia (70 kg) terdapat sekitar 7 trilyun trilyun trilyun atom (99%nya adalah Hidrogen, Oksigen dan Karbon). Bisakah kita bayangkan betapa kecil kemungkinan 7 trilyun trilyun trilyun atom ini membentuk, menyusun, berinteraksi dengan sangat kompleks secara “kebetulan” sehingga seorang manusia mewujud di dunia dengan kelengkapan sistem kehidupannyanya ?

Bagaimana pula dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran manusia dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan kesalingterkaitan?

Bagaimana pula dengan planet bumi yang terdiri atas trilyun trilyun trilyun ….. atom yang tertata sedemikian rapi dengan pergantian musimnya, hukum-hukum geologis, hukum-hukum meteorologi, siklus air, keteraturan arus-arus lautan, dan tak terhitung keteraturan-keteraturan lain?

Bagaimana pula dengan posisi bumi di tatanan tata surya, yang “melayang-layang” tanpa tiang bersama planet-planet lain; dan mengikuti berbagai aturan yang bahkan terukur dengan sangat nyata seperti hukum Keppler? Dengan posisi rotasi yang memungkinkan siklus empat musim? Bagaimana pula tata surya sebagai satu dari 100 milyar bintang yang berputar-putar mengitari pusat galaksi bima sakti?

Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.

Allah SWT berfirman:

Bukti 1 gb1

“Dia (Musa) berkata,’ Tuhan kami ialahyang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’“ (QS 20(THO HA): 50)

Bukti 1 gb2

“Sucikanlah Nama Tuhan-mu Yang Maha Tinggi,
Yang Menciptakan, dan Menyempurnakan,
Dan yang Menentukan Kadar (masing-masing ) dan Memberi Petunjuk,” (QS 87(AL-A’LA): 1–3)

Tauhid for Teens : Bukti (2)

Jika manusia memperhatikan alam ini dengan pikirannya dan mengkajinya dengan akalnya, maka ia akan mendapatinya seperti rumah yang dibangun dan tersedia di dalamnya semua yang dibutuhkannya. Langit terbentang sebagai atap, bumi terhampar sebagai alas, bintang-bintang bercahaya sebagai lampu dan mutiara-mutiara terpendam sebagai simpanan, udara dengan oksigen di dalamnya untuk bernafas, air yang melimpah ruah di seluruh bumi untuk minuman. Semua itu tersedia di dalamnya. Dan manusia adalah sebagai pemilik rumah yang memiliki dan menikmati semua yang ada di dalamnya.

Aneka tumbuhan tersedia bagi kebutuhannya, baik untuk dimakan maupun obat-obatan. Aneka binatang tersedia bagi kebutuhannya juga, baik untuk dimakan maupun kendaraan dan lain-lain. Juga aneka barang tambang, yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Di dalam hal ini terdapat bukti yang jelas bahwa alam ini diciptakan dengan perhitungan, keteraturan dan keserasian. Dan bahwa penciptanya adalah satu. Dialah yang mengatur dan menyusun sebagian terhadap bagian lainnya. Mahaagung kesucian-Nya. Mahatinggi kemurahan-Nya, Mahamulia wajah-Nya dan tiada tuhan selain-Nya. Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan orang-orang murtad, dan Mahaagung dari apa yang diyakini orang-orang ingkar.

Tauhid for Teens : Bukti (3)

Maka, kita memulai dengan menyebutkan penciptaan manusia. Maka perhatikanlah. Awalnya adalah pengaturan janin di dalam rahim. Ia terselubung didalam tiga kegelapan: kegelapan perut, kegelapan rahim dan kegelapan plasenta. Di mana ia tidak dapat mencari makanan dan menolak sakit. Ia tidak akan dapat memperoleh manfaat dan menolak bahaya. Melalui tali pusar disalurkan sari makanan dan air. Demikianlah seterusnya makanannya.

Hingga ketika telah sempurna penciptaannya, kokoh badannya dan kuat kulitnya untuk bersentuhan langsung dengan udara luar dan penglihatannya untuk menerima cahaya, maka tibalah bagi ibunya masa untuk melahirkannya. Ibunya mencemaskan dan menekannya hingga anak itu terlahir. Ketika telah lahir, maka makanan yang tadinya disalurkan dari darah kini beralih pada kedua susu ibunya. Berubahlah rasa dan warnanya menjadi rasa dan warna makanan yang lain.

Hal itu lebih sesuai bagi bayi yang dilahirkan daripada yang disalurkan melalui darah. Maka hal itu didatangkan pada saat diperlukan. Setelah dilahirkan, ia menjulurkan lidahnya dan menggerakkan bibirnya mencari susuan. Maka ia mendapatkan tetek ibunya sebagai dua kantung yang menggantung untuk memenuhi kebutuhannya. Senantiasa ia makan dari air susu itu selama badannya rapuh, alat-alat pencernaannya masih lembut dan anggota-anggota tubuhnya lemah.

Hingga ketika ia bergerak dan memerlukan makanan yang keras untuk menguatkan dan mengeraskan badannya, tumbuhlah gigi susu dan gigi depan untuk mengunyah makanan sehingga menjadi lembut dan mudah ditelan. …
Perhatikanlah keteraturan pada diri manusia dalam berbagai keadaan. Apakah hal seperti itu dapat terjadi dengan ketidaksengajaan? Tidakkah engkau perhatikan bahwa kalau ia berada di dalam rahim, sementara darah tidak mengalir kepadanya, bukankah ia akan menjadi layu dan kering seperti tumbuhan yang tidak mendapat siraman air? Kalau proses kelahiran tidak mengeluarkannya ketika sempurna tubuhnya, tidakkah ia akan berada di dalam rahim seperti orang yang dikubur hidup-hidup di dalam tanah? Kalaulah air susu tidak keluar ketika kelahirannya, tidakkah ia akan mati kelaparan atau memakan makanan yang tidak cocok baginya dan tidak baik bagi tubuhnya? Kalaulah tidak tumbuh gigi pada waktunya, tidakkah ia akan mendapat kesulitan dalam mengunyah makanan dan menelannya? Atau, ia terus-menerus menyusu sehingga badannya tetap lemah dan tidak mampu untuk bekerja? Kemudian ibunya disibukkan dengan mengasuh anak-anak yang lain?

Tidakkah engkau lihat bagaimana setiap ciptaan senantiasa diciptakan untuk tujuan kebaikan, dan diciptakan dengan perhitungan, keteraturan dan keserasian. Dan bahwa penciptanya adalah satu. Dialah yang mengatur dan menyusun sebagian terhadap bagian lainnya dengan pengaturan yang terbaik. Mahaagung kesucian-Nya. Mahatinggi kemurahan-Nya, Mahamulia wajah-Nya dan tiada tuhan selain-Nya. Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan.

Tauhid for Teens : Bukti (3)

Maka, kita memulai dengan menyebutkan penciptaan manusia. Maka perhatikanlah. Awalnya adalah pengaturan janin di dalam rahim. Ia terselubung didalam tiga kegelapan: kegelapan perut, kegelapan rahim dan kegelapan plasenta. Di mana ia tidak dapat mencari makanan dan menolak sakit. Ia tidak akan dapat memperoleh manfaat dan menolak bahaya. Melalui tali pusar disalurkan sari makanan dan air. Demikianlah seterusnya makanannya.

Hingga ketika telah sempurna penciptaannya, kokoh badannya dan kuat kulitnya untuk bersentuhan langsung dengan udara luar dan penglihatannya untuk menerima cahaya, maka tibalah bagi ibunya masa untuk melahirkannya. Ibunya mencemaskan dan menekannya hingga anak itu terlahir. Ketika telah lahir, maka makanan yang tadinya disalurkan dari darah kini beralih pada kedua susu ibunya. Berubahlah rasa dan warnanya menjadi rasa dan warna makanan yang lain.

Hal itu lebih sesuai bagi bayi yang dilahirkan daripada yang disalurkan melalui darah. Maka hal itu didatangkan pada saat diperlukan. Setelah dilahirkan, ia menjulurkan lidahnya dan menggerakkan bibirnya mencari susuan. Maka ia mendapatkan tetek ibunya sebagai dua kantung yang menggantung untuk memenuhi kebutuhannya. Senantiasa ia makan dari air susu itu selama badannya rapuh, alat-alat pencernaannya masih lembut dan anggota-anggota tubuhnya lemah.

Hingga ketika ia bergerak dan memerlukan makanan yang keras untuk menguatkan dan mengeraskan badannya, tumbuhlah gigi susu dan gigi depan untuk mengunyah makanan sehingga menjadi lembut dan mudah ditelan. …
Perhatikanlah keteraturan pada diri manusia dalam berbagai keadaan. Apakah hal seperti itu dapat terjadi dengan ketidaksengajaan? Tidakkah engkau perhatikan bahwa kalau ia berada di dalam rahim, sementara darah tidak mengalir kepadanya, bukankah ia akan menjadi layu dan kering seperti tumbuhan yang tidak mendapat siraman air? Kalau proses kelahiran tidak mengeluarkannya ketika sempurna tubuhnya, tidakkah ia akan berada di dalam rahim seperti orang yang dikubur hidup-hidup di dalam tanah? Kalaulah air susu tidak keluar ketika kelahirannya, tidakkah ia akan mati kelaparan atau memakan makanan yang tidak cocok baginya dan tidak baik bagi tubuhnya? Kalaulah tidak tumbuh gigi pada waktunya, tidakkah ia akan mendapat kesulitan dalam mengunyah makanan dan menelannya? Atau, ia terus-menerus menyusu sehingga badannya tetap lemah dan tidak mampu untuk bekerja? Kemudian ibunya disibukkan dengan mengasuh anak-anak yang lain?

Tidakkah engkau lihat bagaimana setiap ciptaan senantiasa diciptakan untuk tujuan kebaikan, dan diciptakan dengan perhitungan, keteraturan dan keserasian. Dan bahwa penciptanya adalah satu. Dialah yang mengatur dan menyusun sebagian terhadap bagian lainnya dengan pengaturan yang terbaik. Mahaagung kesucian-Nya. Mahatinggi kemurahan-Nya, Mahamulia wajah-Nya dan tiada tuhan selain-Nya. Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan.

Tauhid for Teens : Bukti (4)

Dengan merujuk pada pembahasan terdahulu, muncullah pertanyaan ini: Jika seluruh alam semesta dan setiap bagiannya, dari atom sampai galaksi dan dari mineral sampai manusia, merupakan tanda-tanda jelas yang menunjukkan Kearifan, Kekuasaan, Berkehendak, Keesaan, Pengasih, dan sifat-sifat lain Pencipta alam semesta, apakah tidak berarti bahwa alam semesta ini juga merupakan suatu bukti yang jelas dan tidak terbantahkan tentang eksistensi Pencipta itu sendiri?

Jawaban atas pertanyaan ini positif; yaitu, ya.
ALLAH tabaroka wa ta’aalaa berfirman:

Bukti4_gb1

Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia Menyaksikan segala sesuatu? (QS 41 (FUSHSHILAT) : 53)

Tauhid for Teens : Bukti (5a)

Kebutuhan dan kebergantungan fitri segenap makhluk dengan jelas menunjukkan sangat perlunya eksistensi Wujud Mahamandiri, dan kefanaan segenap makhluk ini menunjukkan sangat perlunya eksistensi suatu realitas yang mandiri dan tidak berubah, realitas yang mendasar bagi mereka.

Sebagai contoh kebutuhan fitri manusia akan makanan. Terlepas dari jenis khusus makanan yang diinginkannya dan aspek temporalnya yang berubah-ubah terhadap waktu, kebutuhan manusia akan makanan adalah kebutuhan fitri manusia. Dan memiliki aspeknya yang universal, yakni tidak bergantung ruang dan waktu, suku maupun bangsa.

Kebutuhan ini ternyata menunjukkan eksistensi dan realitas obyektif makanan. Makanan yang dibutuhkan manusia benar-benar ada dan benar-benar bermanfaat bagi manusia untuk mempertahankan kehidupannya dalam rangka meneruskan hidupnya menuju kesempurnaannya.

Ini juga berlaku untuk kebutuhan-kebutuhan fitri yang lain seperti kebutuhan akan teman, kebutuhan untuk hidup dalam komunitas masyarakat, kebutuhan akan pasangan hidup dan lain-lain. Juga kebutuhan akan hal-hal yang imaterial seperti kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan empati dan simpati.

William James seorang filosof dan ilmuwan terkemuka dari Amerika menyatakan: “Naluri-naluri manateriallah yang mengubungkan kita dengan alam material ini, demikian pula naluri-naluri spiritual menghubungkan kita dengan alam yang lainnya”

Tentang universalitas kebutuhan dan kebergantungan fitri manusia ini akan Tuhan dan agama, Albert Einstein, fisikawan paling terkenal abad 20 mengatakan:

“Ada lagi agama dan akidah ketiga, bersemayam dalam setiap pikiran tanpa kecuali, meskipun takkan Anda jumpai keseragaman cara mengkhayalkannya sesuai dengan beragamnya imajinasi setiap orang. Aku menyebut akidah ini “perasaan keagamaan yang melekat pada wujud semesta”. Sulit bagiku menjelaskan perasaan ini bagi orang yang tidak memilikinya, apalagi pembahasan di sini bukan berkenaan dengan Tuhan itu yang tampak dalam berbagai bentuk itu.

Akidah ini mengajarkan kepada manusia tentang remehnya harapan-harapan dan tujuan-tujuan manusia serta agungnya apa yang berada di balik semua maujud alamiah. Manusia akan merasa bahwa keberadaan dirinya adalah penjara dan ia ingin melepaskan dirinya dari penjara tubuhnya, untuk terbang meninggi menjumpai totalitas wujud ini secara serentak denagn hakikatnya yang satu.”

Sedangkan seorang filsuf dan ilmuwan Muslim kontemporer menjelaskan:

“Berdasarkan pendapat ini, semua manusia, terutama orang-orang tertentu yang telah mencapai periode kedewasaan dan kemajuan, memiliki perasaan itu; yakni keinginan untuk melepaskan diri dari wujud terbatas mereka dan mencapai inti wujud. Pada diri manusia terdapat dorongan dan dambaan yang tidak akan menetap, tenang dan tenteram kecuali bila telah berhubungan dengan sumber wujud ini. Allah SWT serta hakikat suci inilah yang disebutkan dalam salah satu ayat Al Quran al Karim :

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat ALLAH. Ingatlah, hanya dengan mengingat ALLAH hati menjadi tenteram.
(QS 13 (AR RA’DU) : 28) “

Tauhid for Teens : Bukti (5b)

Salah satu cara praktis yang sederhana dan tidak rumit untuk menyadari KeberadaanNya adalah melewati kebutuhan fitri kita pada sesuatu yang absolut, dengan mengkondisikan pikiran kita pada saat-saat yang genting. Coba bayangkan kapal yang kita naiki hendak tenggelam, apa yang kita rasakan saat itu? Ketika sebagian kapal mulai tenggelam dan kematian sudah di depan mata.

Dan ketika kita telah terapung-apung berpegang pada satu papan, di atas samudera luas. Pada saat itu jiwa kita secara otomatis akan mengarah pada Satu Kekuatan Absolut Yang Maha Baik, yang kita harapkan KebaikanNya, untuk menolong kita atau memberikan akhir yang baik pada kehidupan kita. Seorang penyair berkata:

Wa qolbu ya’rifuhu wa yaroohu
Dan hati mengenalNya dan melihatNya