Monday, January 10, 2011

Tauhid for Teens : Bukti (6)

Kehendak dan gerakan makhluk-makhluk hidup tidaklah muncul dari jasad mereka, melainkan dari ruh atau jiwa mereka. Jika ruh tersebut pergi, maka jasad akan mati dan tidak berfungsi lagi. Sebagai contoh, seandainya penglihatan dan pendengaran bisa dilakukan oleh mata dan telinga saja, tentunya kedua indera ini akan tetap berfungsi selama mereka ada (meskipun manusianya telah mati). Tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Demikian pula, jika makhluk hidup itu tercipta atau bersumber dari makhluk hidup itu sendiri, tentunya makhluk-makhluk tersebut tidak akan pernah kehilangan wujud dan manifestasinya. Tetapi kita melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa kenyataannya tidaklah demikian. Makhluk-makhluk itu mati dan musnah satu demi satu. Makhluk-makhluk itu mati dan musnah satu demi satu. Mereka selalu berada dalam pergerakan dan perubahan. Mereka berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain.

Karena itu kita harus menyimpulkan bahwa semua wujud memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain, yaitu Pencipta mereka. Segera setelah batas waktu kemakhlukannya habis, wujud tersebut lenyap dalam ketiadaan. Wujud yang wujud tidak-terbatasnya menopang alam semesta ini dan memelihara keterhubungan (kontinuitas) dan kelestarian semua makhluk yang ada di dalamnya, disebut Tuhan. Dia adalah wujud yang berada di luar jangkauan non-wujud. Kalau tidak demikian halnya, maka Dia adalah seperti wujud-wujud yang lain, yang wujudnya bergantung tidak pada diri mereka sendiri, tapi pada yang lain.

Lautan Rumi

Nama-Mu berpadu dengan Mentari Agama dari Tabriz
Hidup-Mu bercumbu dengan Mentari Agama dari Tabriz
Maka SebutanMu adalah Mentari Agama dari Tabriz
Tiada Siapa-pun bagiMu kecuali Sang Mentari tak kenal habis

Dengar buluh suling, bagaimanakah ia mengeluh
meratapi pembuangannya dari rumah:
“Walau mereka mencabik-cabikku dari ranjang pohonku,
nyanyian keluhananku telah menggerakkan laki dan wanita untuk berairmata.
Aku memecah dadaku, berjuang untuk memberikan jalan keluar bagi nafas panjang
Dan untuk menyatakan ketakutan kerinduanku akan rumahku,
Dia yang tinggal jauh dari rumahnya
akan selalu merindukan hari saat dia akan pulang.
Ratap-tangisku didengar pada tiap kerumunan,

Dalam harmoni dengan mereka yang bergembira dan mereka yang menangis.
Masing-masing menafsirkan nyanyianku dengan perasaannya sendiri,
Tapi tak satupun mengukur kedalaman rahasia-rahasia hatiku,
Rahasiaku tak asing dari nyanyian keluhanku,
Tapi mereka tak nampak oleh mata dan telinga inderawiah,
Tubuh tak terhijab dari jiwa, tak pula jiwa dari badan,
Tapi tak ada manusia yang telah melihat jiwa.”
Keluhan suling ini yalah api, bukan sekadar udara.
Biarkan dia yang tak punya api ini dianggap mati!
Yalah api cinta yang menjiwai suling,
Yalah aroma cinta yang mempunyai anggur.
Suling itu adalah kepercayaan para pecinta yang tak bahagia,
Yah, ketegangannya tergeletak telanjang dalam rahasia-rahasiaku yang terdalam
Siapakah yang telah melihat racun dan obat penawar racun seperti suling?

Siapakah yang telah melihat hiburan ramah seperti suling ini?
Suling ini mengabarkan kisah jalan cinta nan dilapisi darah,
Ia ungkapkan kisah jala-jemala cinta Majnun.
Tiada yang tahu akan perasaan-perasaan ini kecuali akan gila,
Sebagaimana telinga menyuimpang pada bisik-bisik lidah,
Melalui kuburan hari-hariku demikian berat dan pedih,
Hari-hariku bergerak, bergantian giliran dengan dukacita,
Tapi, walau hari-hariku musnahjadinya, tak apalah,
Apakah kau tinggal, Duhai Yang Tunggal Murni Tiada Banding!
Tapi semua yang bukan ikan akan segera lelah dalam air;
Dan mereka yang kehilangan roati hariannya akan menemukan betapa hari teramat panjang;
Maka yang “Mentah” tak meliputi keadaan yang “Mentah;”
Oleh karena itu itu menekan aku untuk memendekkan pidatoku,

Bangkitlah, Duhai anak! Buanglah belenggumu dan merdekalah!
Berapa lama kau akan tertangkap oleh perak dan emas?
Walaupun engkau menceburkan lautan ke dalam gala-galamu,
Ia tak kan ada lebih dari toko sehari
Gala-gala keinginan akan ketamakan tak pernah penuh,
Kulit kerang tak kan penuh dengan mutiara sampai mutiara adalah isinya;
Hanya dia yang bajunya disewakan oleh pembunuhan cinta
yang murni sepenuhnya dari ketamakan dan dosa.
Sambutlah olehmu, kemudian, Duhai Cinta, kegilaan nan manis!
Kau yang menyembuhkan seluruh kelemahan kami!
Yang adalah dokter dari kesombongan dan bangga diri kita!
Yang merupakan Plato kita dan Galen kita!
Cinta menaikkan tubuh-tubuh duniawi kita ke langint,
Dan membuat bukit-bukit menari dengan gembira!

Duhai pecinta, ‘dalah cinta yang telah memberi kehidupan pada Gunung Sinai,
Tatkala “ia bergoncang, dan Musa jatuh pingsan.”
Apakah Kekasihku hanya menyentuhku dengan bibirnya,
Aku pun, seperti suling itu, akan pecah dalam melodi.
Tapi dia yang berpisah dari mereka yang berbicara lidahnya,
Walau dia mempunyai seratus suara, ia terpaksa bisu.
Ketika mawar telah menjadi layu dan taman telah menjadi kering,
Lagu dari burung malam tak lagi didengar.
Kekasih adalah semua dalam semua, pecinta hanya menabiriNya;
Pecinta adalah semua yang hidup, pecinta sesuatu yang mati.
Ketika pecinta tak lagi merasakan goncangan Cinta,
Ia menjadi seperti burung yang kehilangan sayapnya. Sayang!
Bagaimana bisa ku memperbincangkan rasaku tentang aku,
Ketika Kekasih tak menunjukkan Cahaya WajahNya?

Cinta menginginkan bahwa rahasia ini harus diungkapkan,
Karena bila cermin tak memantulkan, untuk apakah ia?
Ketahuilah engkau mengapa cerminmu tak memantulkan?
Karena karat belum digosok dari wajahnya.
Jika ia dibersihkan dari semua karatdan kotoran
Ia akan memantulkan cahaya Mentari Ilahi.

Wahai teman, kau harus mendengar kisah ini,
yang memberitahukan hakikat dari keadaanku.

Dzikr dan ‘Ilmu Hudhuriy

Ia, – Allah-, hakikat semua yang maujud, menunjukkan diri-Nya Yang Mahasejati kepada semua yang maujud dengan diri-Nya sendiri. Bukan dengan apapun selain diri (baca juga; Zat) – Nya. Bukan pula dengan semua intellegebles yang ada dalam alam mental manusia yang dikreasi secara hushuliy (representasional) oleh mental manusia. Subhanalloohi ‘amma yashifuun. (Maha Suci Allah atas apa semua yang mereka sifatkan) . Mereka sifatkan, mereka merupakan bentuk jamak dan jelas menunjukkan bahwa subyek pensifatan yang batil ini bukan Ia sendiri. Illa ‘ibaadalloohil-mukhlashiin. (Kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas). Mukhlashiin, bentuk pasif yang bukan merupakan pelaku (fa’il) tapi yang dikenai pekerjaan (maf’ul), kenapa? Karena mutlak yang merupakan pelaku sebenarnya penyifatan Allah yang benar adalah diri-Nya sendiri.

Maka orang yang telah mencapai al-faqr (kefakiran ruhani), tidak merasa memiliki apapun. Semua kebaikan, keagungan, kebenaran, – baginya-, benar-benar milik Allah belaka. Dan Allah – pun akan mengingat (baca juga; melakukan dzikr) atas Zat – Nya sendiri melalui para fakir ruhani ini dengan menggetarkan segenap manifestasi wujud sang fakir dengan Nama-Nama – Nya.

Sebaliknya banyak orang yang telah berzuhud meninggalkan dunia tapi merasa memiliki satu kedudukan rohani (baca; maqam) tertentu di sisi Allah. Ibadahnya terasa amat lezat dengan bertambahnya kedudukannya di sisi Allah. Alih – alih mereka berjalan di muka bumi dengan teramat rendah hati, di balik cahaya benderang wajahnya yang menawan di relung terdalam hati terselip satu pandangan bahwa amalannya atau minimal kondisi hatinya cukup baik , dan lebih baik dari rata – rata manusia di dunia. Ohh…, apakah mereka lupa setitik sombong akan mencegah mereka dari surga. Dan apakah mereka lupa, Pemimpin Orang-Orang Beriman, Imam ‘ Ali bin Abi Thalib (a.s.) merintih; wa khoda’atnii dunya bi ghuruurihaa, wa nafsii bi jinaayatihaa wa mithoolii , dan dunia telah memperdayakanku dengan tipuan-tipuannya, dan diriku (telah tepedaya) karena ulahnya ?

Dimitri sebagai dimitri tak mengenal apa-pun, buta dalam lautan relativisme uber ales (baca; relativisme dalam segala hal) . Kehadiran diri – Nya dalam “bayangan kosong dimitri” lah yang merupakan kebenaran absolut dan merupakan satu – satunya yang pantas disebut sebagai ilmu. Contohnya ? Prinsip identitas, prinsip non-kontradiksi, dan lain-lain. Jadi ? Semua ‘ilmu adalah ‘ilmu hudhuriy, saat Allah mengingat diri – Nya sendiri melalui pancaran Nama-Nama – Nya. Apa artinya? Subyeknya Allah, Obyek Yang Diketahuinya -pun Allah, maka terucaplah yaa man dalla ‘ala dzaatihi bidzaatihi, wahai yang menunjukkan atas Zat-Nya dengan Zat-Nya !

Dan bagaimana untuk memperkuat intensitas ilmu hudhuriy seiring dengan menambah kesadaran kita akan kefakiran mutlak kita? Bukankah Qur’an Suci telah menyatakan; “ Dan sesungguhnya mengingat Allah (dzikrullah) adalah lebih besar.” Atau; “ Ingatlah kamu kepada – Ku, niscaya aku akan ingat kepadamu.” Maka, jika kita mengingat Allah, – yang bahkan meliputi seluruh manifestasi wujud kita-, Allah akan menghadirkan ingatannya kepada diri kita. Sebagaimana dikisahkan ketika satu dari ahli dzikir yang amat tekun, – Maha Guru Husein bin Mansur Al – Hallaj -, di penjara pada hari pertama beliau menghilang dari penjara, sedang pada hari kedua penjaranya hilang. Maka di hari ketiga penjaga menanyakan kepadanya tentang hal tersebut, beliau menjawab, “ Hari pertama aku pergi ke hadhirat Tuhan maka aku menghilang, sedang di hari kedua Tuhan hadir sehingga penjara pun hilang.”

wallohu a’lam bish-showwab

POHON EKSISTENSI IBNU ‘ARABI (Bagian 2)

Perkataan-Nya dalam dirinya sendiri adalah Perbuatan.

Sekarang saya memperhatikan alam semesta yang mengelilingi kita dan berpikir bagaimana segala sesuatu terjadi (tercipta) dan berusaha untuk memecahkan misteri yang disandikannya, dan perhatikanlah! saya melihat bahwa seluruh alam semesta ini tidak lain adalah sebuah Pohon.
Pohon yang cahaya kehidupannya datang dari sebuah benih yang pecah ketika Allah berkata kun! Benih dari huruf K dipupuk dengan huruf N dari nahnu (Kami), tercipta ketika Allah berfirman :

Kami lah yang telah menciptakanmu
(Q.S Al-Waqi’ah,57)

Kemudian dari gabungan dua benih ini tumbuh dua tunas yang bersesuaian dengan janji Allah :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan fithrahnya
(Q.S Al-Qamar, 49)

Tetapi akar dari dari dua tunas ini hanyalah tunggal.
Akar itu adalah Kehendak Sang Pencipta, dan apa yang menumbuhkannya adalah Kekuasaan-Nya.
Kemudian dari esensi huruf K dari kata ilahiah kun, lahirlah dua makna yang berlawanan :
Kamaliyah, kesempurnaan, sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya :

Pada hari ini telah Ku sempurnakan agamamu dan telah Kulengkapkan Rahmat-Ku padamu serta Kupilihkan Islam sebagai agamamu.
(Q.S. Al-Ma’idah,3)

dan kufriyyah, keingkaran (kekufuran), sebagaimana firman Allah:

Maka sebagian dari mereka beriman dan sebagian lagi kufur
(Q.S. Al-Baqarah, 253)

Demikian juga dari hakikat kata N beremanasi makna-makna berlawanan dari nur al-ma’rifah (cahaya pengetahuan) dan nakirah (gelapnya kebodohan). Karena itu ketika Allah mengeluarkan mahluk-Nya dari Harta Tersembunyi ketidakberadaan menuju eksistensi, bersesuaian dengan keadaan dan bentuk yang telah ditetapkan sebelumnya (kodratnya), Dia memancarkan cahaya ilahiah-Nya terhadapnya. Siapapun yang terkena cahaya itu dapat melihat Pohon Eksistensi yang tumbuh dari benih perintah ilahiah kun yang melingkupi seluruh alam semesta. Dan mereka yang tercerahkan ini mengetahui rahasia K dalam kata kuntum (kamu), sebagaimana firman Allah :

Kamu sekalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan, yang menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kamu beriman kepada Allah
(Q.S. Ali ‘Imran, 109)

Mereka juga menembus makna tersembunyi dari kata terakhir N dari kun sebagai nur (cahaya), sebagaimana firman Allah :

Apakah dia yang hatinya telah Allah bukakan kepada Islam sehingga dia mengikuti cahaya dari Tuhan-nya (tidak lebih baik dari dia yang keras hatinya)?
(Q.S Az-Zumar,22)

Tetapi mereka yang menyembunyikan dirinya sendiri dari cahaya ilahiah ketika Allah memancarkannya pada mahluk-Nya juga berkewajiban mengetahui makna tersembunyi dari huruf-huruf kata kun sebagaimana Allah mengucapkannya. Barangsiapa yang dirinya tetap ada dalam kegelapan akan gagal mengetahui kebenaran dan membayangkan huruf K singkatan dari kufr, yang maknanya kegelapan dimana mereka berdiri didalamnya, menyembunyikan segala sesuatu dari mata. Mereka akan membayangkan bahwa huruf N singkatan dari nakirah, yang berarti kebodohan. Mereka menjadi putus asa, dan dalam keputusasaannya tidak dapat mempercayai Pencipta-nya.

Dengan demikian banyak dari segala sesuatu yang diciptakan tergantung pada bagian pemahamannya atas misteri dua huruf tersebut, yang menjadi penyebab setiap eksistensi. Buktinya ada dalam kata-kata Rasulullah, yang bersabda :
Sesungguhnya Allah menciptakan mahluk dalam alam kegelapan total, kemudian memancarkan cahaya ilahiah-Nya terhadapnya. Barangsiapa yang terterangi oleh cahaya tersebut akan tercerahkan dan terbimbing dengan baik. Dan barangsiapa tersembunyi dari cahaya tersebut dan tak tersentuh dengannya akan sesat dan rugi.
(Ahmad bin Hanbal)

Ketika bapak kita Adam, manusia pertama yang Allah ciptakan, membuka matanya – ketika Allah meniupkan ruh-Nya padanya- dia memperhatikan eksistensi lainnya. Dan dia melihat bahwa itu adalah sebuah lingkaran. Segala sesuatu berevolusi sekitar lingkaran Kemenjadian dan Kemengadaan. Kenyataannya ada dua lingkaran, yang satu berupa api dan lainnya adalah tanah yang basah. Dan dia melihat bahwa evolusi alam semesta adalah manifestasi dari perintah ilahi kun – sebab, kekuatan, urutan kemenjadian sebab akibat, tanpa gagal dan selamanya datang darinya.

Sebagaimana tidak ada dan tak ada sesuatu pun yang keluar dari lingkaran berputar ini, begitupun tidak ada yang dapat dikecualikan, ia adalah apa yang mereka lihat dan mereka peroleh. Sebagian akan melihat K sebagai Kesempurnaan dan berjuang untuk sempurna, dan sebagian akan melihatnya sebagai Kekufuran dan menjadi orang kafir. Sebagian akan mendapat pencerahan dalam makna huruf N dan menjadi bijak, yang lainnya akan menemukan kenyamanan dalam ketidakpeduliannya dan mengira huruf N sebagai pilihan pada kebodohan atas kesadaran.

Tak ada yang dapat menyelamatkan mereka dari akibat kepercayaannya pada apa yang mereka pandang sebagai kebenaran. Ini ditetapkan oleh Dia yang menciptakan mereka dan apa yang mereka lihat, serta apa yang mereka pahami dari apa yang mereka lihat. Setiap orang terikat untuk tetap dalam keliling lingkaran yang diatasnya mereka berputar. Tak ada yang bisa menjadi selain dari apa yang Dia kehendaki yang berkata Jadilah!, dan semuanya terjadi. Segala sesuatu menghadap ke pusat lingkaran kun dan tergantung padanya dalam segala perwujudannya.

Kemudian engkau juga melihat pada Pohon Eksistensi itu, yang dahan-dahannya melingkupi seluruh alam semesta. Meskipun setiap dahan, setiap daun, setiap buah berbeda, mereka semua berasal dari benih tunggal, benih cinta yang dinamakan kun. Ketika bapak kita Adam dibawa Allah ke sekolah untuk belajar, untuk menjadi manusia yang ditetapkan menjadi khalifah Allah di alam semesta ini, pertama kali dia diajarkan semua nama segala sesuatu yang eksis.
Kemudian dalam kekaguman dia berjumpa dengan kata kun, perintah ilahiah Jadi, sebab dari semua yang ada. Apa artinya? Dia mencari maksud Dia yang membawa semua ini menjadi ada dan melihat bahwa huruf pertama K berhubungan dengan kata kanziyyah (Harta Yang Tersembunyi), ketika Allah berfirman :

Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku suka untuk dikenal, maka Aku ciptakan mahluk sehingga dengan demikian Aku dapat dikenal.

Dan dalam kata terakhir N, dia melihat identitas Pencipta, ketika Dia berkata Ana Allah (Aku adalah Allah)

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku
(Q.S. Thaa Haa, 14)

Kemudian setelah beberapa kejadian, diturunkan padanya bahwa K pada kanziyyah menunjukkan pemberian dari Allah atasnya dan keturunannya dalam kata karam (kemuliaan) Tuhannya, seperti yang dijanjikan dalam firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka jauh diatas kebanyakan mahluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna
(Q.S Bani Isra’il, 70)

Dan juga, K berarti untuk Adam adalah kuntiyyah (menjadi, dari ‘Saya menjadi’) dalam janji Allah, ketika Dia berfirman :

Ketika hamba-Ku yang beriman datang mendekat pada-Ku dengan melakukan ibadah tambahan, dia mencintai-Ku dan Aku mencintainya; dan ketika Aku mencintainya, Aku menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, dan Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memegang….

Dan dia memahami bahwa huruf N pada Ana Allah dimaksudkan untuk memancarkan nur, cahaya ilahi, atasnya dan atas mereka yang seperti dia, sebagaimana Allah berfirman :

Apakah sama orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?
(Q.S. Al-An’am, 122)

Dan N dalam kun menunjuk pada N dalam kata ni’mah, nikmat dari Allah, dalam firman-Nya :

Dia telah memberikan padamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.
(Q.S. Ibrahim, 34)

Inilah beberapa yang bapak kita Adam pelajari tentang kata ilahiah kun dalam sekolah Allah di surga – bukan semuanya. Kita hanya menyebutkan sedikit dari yang sedikit. Selebihnya akan dibahas kemudian.
Sekarang Setan yang terkutuk pergi ke sekolah yang sama di surga, dan selama empat puluh ribu tahun dia belajar, meneliti rahasia-rahasia dalam huruf-huruf dari kata kun. Tetapi Guru Ilahiah berkehendak bahwa dia semestinya bergantung pada kekuatan dirinya dan merasa yakin dan bisa melakukan sesuatu dengan dirinya sendiri. Maka ketika dia meneliti makna dari huruf K dia menghubungkannya dengan kebergantungannya hanya pada dirinya sendiri dan atas keingkarannya pada setiap kekuatan lain selain dirinya sendiri, sebagaimana yang difirmankan oleh Tuhannya:

Dia dengan bangga menolak untuk tunduk pada Allah dan menyombongkan diri…
(Q.S. Al-Baqarah, 34)

Dan dia melihat dalam huruf N sifat dasar dirinya yang berapi-api dalam kata nar (api), dan dia berkata :

Aku lebih baik daripada Adam: Engkau telah menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.
(Q.S. Al-A’raf, 12)

Dengan begitu kufr yang setan identifikasikan dalam huruf K memaksanya kepada nar yang dengannya dia melihat dalam huruf N, dan ketetapannya serta ketetapan yang seperti dirinya telah ditentukan :

Maka mereka dilemparkan kedalam api Neraka
(Q.S. Asy-Syura, 94)

Ketika bapak kita Adam melihat pada Pohon Eksistensi, dalam keindahan berbagai macam bunga dan buah-buahan yang ada pada sebegitu banyak dahan-dahannya, dia meninggalkan semuanya kecuali berpegangan pada dahan

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan melainkan Aku
(Q.S Tha Haa, 14)

Dia mengetahui bahwa itu hanyalah satu-satunya yang meyakinkan dan tak dapat diubah. Maka dia berlindung dalam keselamatan dari kesendirian dalam ketunggalan Tuhannya. Sementara dalam keadaan persatuan, berita tanpa suara dan tanpa kata datang kepada keduanya, dia dan ibu kita Hawa:

Wahai Adam, tinggalah kamu dan istrimu di surga dan makanlah dari apa yang kamu suka, tapi janganlah kamu dekati pohon ini
(Q.S Al-A’raaf, 19)

Tetapi Setan yang terkutuk tidak akan tinggal diam. Dia berpegangan pada dahan imajinasi palsu, dia berkehendak untuk menggoda mereka. Dalam kenyataannya dia berhasil, dan membuat Adam dan Hawa makan dari pohon terlarang. Dan mereka melanggar perintah Tuhannya :

…janganlah mendekati pohon ini

Tetapi mereka sadar apa yang telah mereka perbuat adalah salah. Maka ketika mereka tergelincir dari kedamaian persatuan mereka dengan Tuhannya, mereka bergantung pada dahan penyesalan dan berkata :

Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak memaafkan kami atau tidak memberi rahmat pada kami, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi.
(Q.S Al-A’raaf,23)

Dan berpeganganlah pada dahan tersebut, yang menyelamatkannya, mereka menerima perkataan dalam bentuk buah-buahan yang manis yang tumbuh darinya:

Kemudian Adam menerima perkataan dari Tuhannya lalu Dia pun menerima tobatnya; sungguh Dia Maha Penerima tobat, Maha Penyayang
(Q.S Al-Baqarah, 37)

Ada suatu saat yang disebut Hari Penyaksian, dan pada saat itu dibawah semua saksi mata, menyaksikan, setiap jiwa akan mendengar Tuhannya berfirman :

Apakah Aku ini Tuhanmu?
(Q.S Al-A’raaf, 172)

Dan mereka semua berkata :

Ya; kami semua bersaksi.
(Q.S. Al-A’raaf, 172)

Tetapi mereka akan bersaksi sebatas apa yang mereka pernah lihat dan ketahui, meskipun mereka semuanya menjawab dalam persetujuan, dengan berkata, ‘Ya, sesungguhnya’. Mereka yang telah melihat kecantikan Hakikat Tuhannya akan berkata :

Tak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya
(Q.S. Asy-Syura,11)

Mereka yang telah melihat kecantikan Sifat-Sifat Ilahiah-Nya akan berkata :

Dialah Allah, tiada tuhan selain Dia. Maha Raja yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan…
(Q.S Al-Hasyr, 23-24)

Mereka yang hanya berpikir tentang Allah dalam hubungannya dengan keindahan segala sesuatu yang telah Dia ciptakan akan membayangkan Tuhan mereka dengan berbeda, sesuai dengan kesan-kesan mereka atas sesuatu yang mereka lihat. Sebagian akan menempatkan Tuhan dalam kerangka ruang dan waktu yang terbatas. Sebagian bahkan akan berpikir bahwa Dia tidak ada. Dan sebagian akan membuat suatu bentuk dari batu dan menyangkanya sebagai Dia. Celaka bagi mereka yang ketetapannya adalah ini! Dan mereka berkata :

… tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami
(Q.S. At-Taubah,51)

Bersambung ke bagian 3

* *
Dari buku The Tree of Being (Shajarat al-Kawn) An Orde to the Perfect Man karangan Ibn’ Arabi. Diterjemahkan oleh AAUWABDDAM (Ayatullah Al Uzma Wa’Arif Billah Deddy Djuniardi Antafani Masyhadi).

Cantiknya Wujud : Keindahan Nan Maha Indah (1)

sebagaimana padi adalah bukti bijibijian, pula kekupu adalah bukti kepompong
duhai Saki, sebagaimana arak adalah bukti e-angguran, pula mabuk adalah bukti kepayang
demikian pula Pengingat, sang dzaakir, adalah bukti akan yang diingat
dan IndahNya, lukisan alam mayapada, adalah bukti akan KeindahanNya

Cantiknya wujud adalah lautan keindahan tiada tara yang dilihat oleh hamba-hamba yang tenggelam dalam samudera IngatanNya akan diriNya sendiri. Maka, jelas dalam jiwa-jiwa mereka adalah nyanyian merdu alastu birobbikum. Apa yang mereka lihat? Samudera dalam sekendi air, bahkan segenap kehidupan dalam setetes air. Mentari dalam rembulan, bahkan Sang Maha Matahari Bersinar di dalam hati namun sejuk sekali. Kesucian Nya Yang Maha Suci dalam tasbih-tasbih, bahkan dalam desahan dan keluhan.

Kehidupan ini bagi Pengingat, adalah Nan Diingat
Keberadaan ini bagi Pecinta, adalah Nan Dicinta
Pengingat -lah nan Diingat, dan nan dingingat -lah pengingat
Sebagaimana Layla tampak bagi Majnun, walau di mata domba, dan Majnun tampak bagi Layla walau dibalik domba

Bahwasanya orang yang senantiasa tenggelam dalam ingatan kepadaNya adalah diriNya sendiri, sebagaimana menurut Ibn ‘Arabi (q.s.) tentang makna man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu, barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.

Dituliskan oleh kekasih orang-orang beriman di akhir zaman, Imam Ruhullah Al-Musawi Khomeini dalam al-aadab al-ma’nawiyyah li ash-sholah, Allah Ta’aala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam (dalam al-Kafiy); Wahai Musa, jangan tinggalkan dzikir (kepada)-Ku dalam setiap perkara. Beliau juga mengutipkan sebuah hadits mulia dari Ash-Shodiq (‘alaihis-salaamu); Allah Ta’alaa berfirman ; Wahai Bani Adam, ingatlah Aku dalam dirimu, (niscaya) aku akan ingat dirimu di dalam diri-Ku. Juga dalam Al-Kaafiy yang mulia, Beliau ( Ash-Shadiq ‘alaihis-salaamu) bersabda; Adz-dzaakiru (Orang yang berdzikir) kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tengah-tengah orang yang lupa bagaikan orang yang mati dari orang-orang yang berperang ( al-muhaaribiina al-ghoziina).

Yakni, pedzikir kepadaNya di kalangan orang-orang yang lalai, adalah orang yang telah mati sebelum mati, telah terbuka hijab baginya bahwa dirinya tiada, dan Yang Ada hanyalah Dia Semata. Man ‘arafa nafsahu, yakni barang siapa mengenal dirinya, bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan Yang Ada hanyalah Dia, faqod ‘arafa robbahu, maka Dia Mengenal Tuhannya, dan mengenangNya setiap saat.

Mengenang KaruniaNya, KeIndahanNya, Samudera AmpunanNya, Bahari KenikmatanNya, Mentari RahmatNya, Kelembutan WujudNya dan IndahNya yang mengaliri seluruh alam dini dengan merah delima dan merah mutiara mata-mata perindu padaNya yang memerah, pula desah-desah rintihan persatuan padaNya yang melarik ke langit, serta gelinjang-gelinjang hati-hati pecintaNya yang bak ikan mas berenang-renang di samudera luas keberadaanNya.

Sungguh Ia adalah bukti atas diriNya sendiri
sebagaimana tiada bukti atas Wujud kecuali Wujud
Sungguh Ia adalah bukti atas benarNya sendiri
maka tiada Kebenaran, kecuali Ia menjadi penglihatanmu sendiri

orang buta menyangka ia melihat dengan matanya
orang ‘alim menyangka ia melihat dengan ilmunya
orang kasyaf menyangka ia melihat dengan bashirohnya
si faqir telah arif, Ia melihat dengan diriNya

aku-lah bukti akan dia
dan dia-lah bukti aku
karena aku dan dia tak perlu menyatu, kerna tak pernah mendua
kerna dia dan aku tak perlu bersatu, aku -lah dia -lah aku

oh, pemilik hati, kenali dengan cinta
oh, pemilik mantik, kenali dengan burhan
bahwa Dia Cantik, Cantik Sendiri
bahwa Dia Terang, Dengan Sendiri

wa allohu a’lam bi ash-showwab

Menatap Muhammad Purnama Rindu

Menatap Muhammad purnama rindu
tiada mentari yang tak malu
tiada lidah yang tak kelu
tiada hati yang tak menderu
tiada pula bintang gemintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akulah geletar cahaya Muhammad, aakulah geletar cahaya Muhammad , akulah geletarr cahaya Muhammad dan tiapa pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan mu duhai Muhammad

Menatap Muhammad rembulan rindu
tiada bestari yang tak syahdu
tiada melodi yang tak sendu
tiada jemari yang tak beradu
tiada pula badai taupan yang tak bertiup kencang menahan segenap hasratnya
meronta akuulah dahsyat cahaya Muhammad, aakulah dahsyat kuat Muhammad, aakulah dahsyat cahaya Muhammad dan tiada pula sepoi yang tak bertiup-tiupan menanti persuaan dengan mu duhai Muhammad

Menatap Muhammad gemerlapan rindu
tiada jauhari yang tak bersatu
tiada cinta yang tak berpadu
tiada rindu yang tak bertalu
tiada hidup yang tak baharu
tiada pula puncak merapi yang tak bergolak kawah menahan segenap takjubnya
meletup aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad dan tiada pula gempa yang tak bergoyang-goyang gelisah akan pertemuan dengan mu duhai Muhammad

Menatap Muhammad alifnya rindu
tiada ba` yang tak melengkung
tiada ‘ain yang tak mencekung
tiada penglihatan yang tak tercenung
tiada mata yang tak berpalung
tiada pula samudera yang tak menggelegak ombak menahan segenap asmaranya
mendeburr aakulah gelombang cahaya Muhammad, aakulah gelombang cahaya Muhammad , akulah gelombang cahaya Muhammad dan tiada pula ikan dan buih yang tak menari resah menanti perhelatan denganmu duhai Muhammad

Menatap Muhammad hakikat rindu
tiada mata yang tak nanar
tiada bejana yang tak lubar
tiada pedang yang tak lumar
tiada zirah yang tak lumat
tiada pula bumi-bumi yang tak bergempaan menahan segenap cintanya
menggoncang akulah goncang cahaya Muhammad, aakulah goncang cahaya Muhammad, akulah goncang cahaya Muhammad dan tiada pula kendi-kendi yang tak berpecahan menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad

Meresapi Muhammad mawar-melati rindu
tiada tangkai yang tak tertekuk
tak pula hidung yang tak tertenung
tiada daun yang tak mendayu
tak pula indera yang tak merenung
tiada pula kata-bahasa yang tak terpatah resah menahan segenap takjubnya
merintih akulah takjub cahaya Muhammad, akulah suci cahaya Muhammad, akulah diam cahaya Muhammad dan tiada pula lidah-kelu yang tak berdiaman menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad

Menatap Muhammad merak rindu
tiada bahari yang tak menderu
tiada anjungan yang tak berderak
tiada hari yang tak menderu
tiada sahara yang tak menggelegak
tiada pula rajawali garuda yang tak melayang tinggi menahan segenap hasratnya
mencericit akulah takjub cantik Muhammad, aakulah takjub cahaya Muhammad, aakulah warna-warni Muhammad dan tiada pula nuri dan emprit yang tak berkicauan sendu menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad

Mengingat segenap Mulia Muhammad
pastilah Tuhan kan bersalawat
tiada Malaikat yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersyafaat
tiada pula pendosa yang tak bergetar takut menjerit
akulah tujuan kasih Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad dan tiada pula pendoa yang tak bermajlis salawat hingga sekarat menanti kepastian syafa’atMu duhai Muhammad

Mengingat segenap Indah Muhammad
tiada Zulaikha yang tak ber-Yusuf
tiada Fathimah yang tak ber-‘Ali
tiada Layla yang tak ber-Majnun
tiada Romeo yang tak ber-Yulia
tiada pula kekasih dan pengantin yang tak berpasang-pasangan bercinta merintih
kamilah cahaya kasih Muhammad, kaamilah cahaya indah Muhammad, kaamilah bidadari cinta Muhamma dan tiada pula bidadari-bidadara surga yang tak merindukan cahaya Indahmu, duhai Muhammad

POHON EKSISTENSI IBNU ‘ARABI (Bagian 1)

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang perkataan yang baik sebagai sebuah pohon yang baik, yang akarnya kokoh dan dahan-dahannya menjulang tinggi? (Q.S. Ibrahim, 24)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Yang Tunggal dan Hanya Tunggal dalam Hakikat-Nya serta unik dalam Sifat-sifat-Nya. Maha Suci Dia yang Rahmat-Nya meliputi semua, yang menyebar ke semua arah. Kemurnian-Nya bebas dan bersih dari segala sesuatu yang dapat dilihat dan dibayangkan.

Dia bergerak ke tempat-tempat yang tak terbatasi oleh enam penjuru. Dia melakukan apa yang Dia lakukan tanpa bertindak atau berbuat. Dia melihat segala sesuatu tanpa memandang.

Dia sangat jauh diatas makna dari segala sesuatu ini.
Keunikan-Nya tidak memperkenankan apa pun menyerupai Dia, dan juga tak ada apapun yang bisa memiliki atau melekatkan dirinya pada Nya. Kekuasaan-Nya selalu mencapai tujuannya dan tak pernah sia-sia.

Kehendak-Nya yang mendominasi semua tidaklah memiliki kesamaan dengan hasrat-hasrat rendah sifat manusia, juga Kehendak-Nya senantiasa tidak akan berubah dengan kehendak makhluk-Nya; demikian juga tidak akan menjadi lawan terhadap permohonan makhluk-Nya. Sifat-sifat Ilahiah-Nya, yang Dia manifestasikan pada makhluk-Nya, tidak bertambah atau berkurang ketika dibagi diantara mereka, karena segala Sifat-Nya tidak lain adalah tunggal.

Dia adalah sebab segala sesuatu. Dan ketika Dia berkehendak sesuatu terjadi, semua yang Dia perlu lakukan adalah berkata kun (Jadilah !), maka terjadilah semua yang ada. Semua yang maujud lahir dari makna rahasia terdalam yang tersembunyi dari kata KUN ini. Bahkan semua yang tersembunyi dari mata dan pikiran adalah tidak lain kecuali hasil dari suara misterius ini.

Sebagaimana Allah Ta’alaa berfirman :

Ketika Kami menghendaki sesuatu terjadi, Kami hanyalah berkata kun, maka jadilah ia. (Q.S An-Nahl, 40)

Bersambung ke bagian 2

* *

Dari buku The Tree of Being (Shajarat al-Kawn) An Orde to the Perfect Man karangan Ibn’ Arabi. Diterjemahkan oleh AAUWABDDAM (Ayatullah Al Uzma Wa’Arif Billah Deddy Djuniardi Antafani Masyhadi).

Antara Cinta, Iman dan Akal

Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemikirannya. Karena itu insan kamil (manusia sempurna) menurut pandangan ini adalah orang yang paling sempurna nalarnya, dalam arti telah menyingkap rahasia wujud (keberadaan) sebagaimana kenyataannya.

Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-ornag yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran 190-191).

Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas(rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya. Perlu dicatat di sini bahwa ‘isyq bukanlah dalam arti cinta seksual seperti cinta pada umumnya. Ada dua ciri ‘isyq menurut para ‘urafa ;

  1. Cinta ini bergerak menuju kepada Allah. Ma’syuq (obyek yang dicintai)-nya hanyalah Allah SWT.
  2. Cinta ini mengalir pada semua yang maujud; bintang, bulan, matahari dan yang ada di sekalian alam.

Dalam pandangan ini, seluruh keharmonisan alam adalah tanda aliran ‘isyq(Cinta) dalam segala sesuatu.

Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya berputar-putar
Sedang Sang Penyanyi bergeletar

Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya bak berpelukan
Bercumbu dan mencumbu Tuhan semata

Belum lagi ujung rumput nan ber-embun-an
Menambah sejuk segar hawa pagi nan ber-segar-an
Sepoi angin semilir rancak nan bertiupan
Ia pun mengatakan mari kita mencumbu Tuhan

Dalam semua adalah cinta
Meresapi semua adalah cinta
Tapi cinta pada Tuhan semata
Semua mencinta Tuhan semata

Walau mencumbu tapi tak perlu merayu
Walau mencumbu tapi tak perlu memeluk
Cukup katakan pada-Nya Duhai Sang Ayu
Sampai membanjir airmata meninggalkan ceruk

Hati (al-qalb) adalah sentral Cinta. Maka bagaimana agar manusia mencapai insan kamil ? Para ‘urafa yakin bahwa dengan akal (baca; nalar), manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaan yang hakiki. Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan;

Kaki para filosof terbuat dari kayu
Kaki yang terbuat dari kayu tidaklah berkekuatan sedikitpun

Sebaliknya para ‘urafa meyakini adanya kitab’azali yang terdapat dalam diri setiap orang. Kitab Agung tempat khazanah pengetahuan Tuhan. Yaitu; hati. Tuhan tidak akan pernah dapat ditampung bimi dan langit, tapi Tuhan dapat ditampung (baca; hadir) pada hati mukmin.Dengan membersihkan hati (tazkiyyatun-nafs) dan mengkonsentrasikan hati serta mengarahkannya hanya kepada Allah, maka seseorang akan dapat mencapai derajat insan kamil.

Dalam kitab sufi tidak terdapat tulisan dan kata,
Yang ada hanya hati putih bak salju

Karena tulisan dan kata hanyalah rerantingan
Sedang Wujud yang dirasa adalah akar

Dan tulisan dan kata hanyalah kekhayalan
Seang rasakanlah Ia yang lebih dekat dari urat leher

Dalam hati sufi tidak terdapat berbagai pengetahuan
Yang ada hanya lah Ia sendiri

Qur’an Suci mengatakan; Beruntunglah mereka yang telah membersihkan dirinya (QS Asy-Syams 9).

Di sisi lain Qur’an Suci mengatakan ; Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling berwasiat tentang kebenaran, dan saling berwasiat tentang kesabaran. Jelas amal shalih apapun tanpa iman adalah seperti seorang gadis tanpa ruh. Walaupun secantik apapun hanyalah mayat. Sebaliknya iman tanpa amal shalih pun mustahil, seperti adanya aliran elektron tanpa arus listrik.

Iman (+amal shalih), akal dan cinta adalah tiga ekivalensi tapi mempunyai dimensi masing-masing. Tidak mungkin beriman terhadap sesuatu yang tidak masuk akal. Tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak diimani wujud-nya. Dan tidak mungkin akal kita dapat berkonsentrasi terus menerus untuk menyingkap rahasia Wujud Yang Maha Agung tanpa dorongan dari geletar ‘isyq yang ada dalam dada.

Apa kesimpulannya? Ketiganya hanyalah manifestasi dari satu hal yang sama. Tiadanya yang satu memustikan ketiadaan yang lain. Hanya saja dimensi kehidupan tak berhingga . Mana kala kita pandang dari sudut nalar, akal-lah namanya. Manakala kita pandang dari sudut hati, cinta-lah namanya dan manakala kita pandang dari sudut keyakinan, iman-lah namanya.

Dengan ketiganya, – atau mungkin lebih tepat lagi dengan segenap wujud nya-, seorang manusia dapt mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sampai pada pintu keselamatan, tidak ada lagi hijab antara ia dengan allah. Dia dapat melihat Allah dengan mata hatinya. Baginya Tuhan benar-benar dapat disifati sebagai Azh-Zhaahir ( Yang Maha Lahir), atau bahkan An-Nuur (Cahaya (Mutlak)), sehingga tak ada suatu apa pun yang lebih jelas dari-Nya. Imam Husein bin ‘Ali (r.a.), -cucu Rasulullah (SAW) yang akan menjadi satu dari pemimpin para pemuda di surga-, mengatakan; “ Adakah maujud yang lebih jelas dan terang dari-Mu?”

Logika Menentang Agama

“Man tamanthaqa faqad fazandaqa”, demikian ungkapan terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah. Arti harfiahnya kira-kira adalah, “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”.

Apakah sikap seperti ini dapat dibenarkan? Ataukah memang mutlak salah? Apa implikasi jika sikap seperti ini dibenarkan? Dan apa pula konsekuensinya jika ia mutlak salah? Ataukah sikap seperti ini relatif, bisa benar sekaligus bisa salah secara bersamaan atau secara fuzzy ? Dan apa-kah konsekuensinya jika kebenaran sikap seperti ini fuzzy atau relatif?

Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan yang mungkin (all possible intelligebles). Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya.

Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bagunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.

Sebagai contoh perkataan ‘Ibn Taimiyyah di atas, jika misal pernyataan itu benar, maka menggunakan kaidah logika adalah salah. Karena menggunakan kaidah logika salah, maka prinsip non-kontradiksi salah. Kalau prinsip non-kontradiksi salah . Artinya seluruh kebenaran tiada bermakna, tidak bisa dibenarkan ataupun disalahkan, atau bisa dibenarkan dan disalahkan sekaligus. Kalalu seluruh keberadaan tidak bermakna, maka pernyataan itu sendiri “Man tamanthaqa faqad fazandaqa” juga nafi. Tak bermakna. Tak perlu dipikirkan.

Menerima kebenaran pernyataan beliau tersebut sama saja dengan mengkafirkan beliau. Karena jika peenyataan tersebut benar, maka untuk membenarkannya telah digunakan kaidah logika. Dan karena beliau telah menggunakan kaidah logika, menurut pernyataan-nya sendiri beliau kafir. Jadi sebaiknya pernyataan pengkafiran orang yang menggunakan logika ini benar-benar ditolak. Pernyataan ini salah. Salah. Dan mustahil benar. Karena kalau benar, semua orang yang berfikir benar kafir. Dan ini mustahil.

“Wa qul jaa ‘al-haqqa wazahaaqal-baathil, innal-baathila kaana zahuuqa.” Dalam pandangan saya, Islam jelas menentang adanya relativisme Kebenaran. Dalam Islam yang benar pasti benar dan tidak mungkin salah. Sedang yang salah pasti salah dan tak mungkin benar. Dalam dunia dikenali adanya golongan relativis kebenaran yang disebut sufastaiyyah. Golongan relativis kebenaran ini merupakan pewaris mazhab pemikiran sophisme, yang bermula pada abad ke-5 dan ke-4 SM di Yunani melalui pemikiran Protagoras, Hippias, Prodicus, Giorgias dan lain-lain.

Beberapa pemikiran yang mendasari gelombang filsafat pasca-modernis juga merupakan cerminan dari pandangan golongan ini. Dalam majalah Ummat No.3/Thn.I/7 Agustus 1995, hal 76, DR.Wan Mohd Nor Wan Daud menjelaskan bahwa Akidah Islam jelas menentang keras sikap golongan sufastaiyyah ini. Bagi golongan sufastaiyyah, benar itu bisa salah dan salah itu bisa benar. Bagi golongan shopisme Yunsni, semua yang jelas-jelas ada ini dianggap tidak memiliki keberadaan. Jadi ada dan tiada sama saja. Bagi golongan positivis pasca- Renaisance, semua yang tidak bisa diukur tidak bisa ditentukan benar salahnya. Bagi pengikut Marx dan Hegel, kontradiksibukan saja mungkin terjadi, tapi menjadi arah gerakan alam yang sering disebut sebagai dialektika Hegel. Bagi golongan relativis pasca-modern, yang mendasarkan pemiokirannya pada language games ala Wittgenstein ataupun Russel seyiap propisisi adalah bahasa, dan setiap bahasa nilai kebenarannya relatif, karena itu setiap keberanan itu relatif.

Adapun sufastaiyyah, misalnya sama. Menghancurkan kaidah dasar logoka. Yaitu prinsip non-kontradiksi. Hanya Protagoras meniadakannya dalam tingkatan ada-tidaknya segala sesuatu, para positivis meniadakannya pada tingkatan hal yang tidak bisa diindra, Marx dan Hegel meniadaknnya sebagai watak umum segala yang maujud, dan Wittgenstein maupun Russel menghilangkan otoritas fikiran untuk menerapkan kaidahnaya kepada alam di luar fikiran. Hasilnya sama. Runtuhnya seluruh bangunan pengetahuan manusia. Runtuhnya suatu bangunan keyakinan manusia. Bahkan keyakinan tentang adanya dirinya sendiri ! Na’uudzubihi min dzaalik.

Penerapan kaidah-kaidah berfikir yang benar telah menghantarkan para filosof besar pada keyakinan yang pasti akan keberadaan Tuhan. Socraets dengan The Most Beauty -nya. Plato dengan archetype -nya. Aristoteles dengan prime-mover-nya.. ‘Ibn Arabi dengan al-jam’u bainal-‘addaad (coincindentia in oppositorium) nya. Suhrawardi dengan Nur-i-qahir nya. Mulla Shadra dan Mulla Hadi Sabzavary dengan Al-Wujud Al-Muthlaq-nya. Jelas-jelas penerapan logika bagi mereka tidak menentang agama. Malah sebaliknya, me-real-kan agama sampai ke seluruh pori-pori rohaninya yang mingkin. Atau dengan kata lain, mencapai hakikat. Dalam dialog terakhir Socrates, digambarkan betapa figur filsuf ini mati tersenyum setelah menyebut nama Tuhan sebelum akhir hayatnya.

Tentang Aristoteles, sebuah riwayat menyatakan bahwa ia adalah seorang nabi yang didustakan ummatnya. Tentang ‘Ibn ‘Arabi, tidak ada yang menyangsingkan sebagai salah seorang sufi terbesar sepanjang sejarah dengan tak terhitung pengalaman ruhani yang tertulis di kurang lebih 700 kitabnya. Sedang Mulla Shadra , tujuh kali haji ke Mekkah dengan berjalan dari Qum (Iran) hanya untuk memenuhi panggilan kekasih-Nya. Alih-alih logika menentang agama, malah logika adalah kendaraan super-executive untuk mencapai hakikat. Dan sekali lagi alih-alih logika menentang agama , tanpa logika agama tak-kan dapat terpahami. Jadi apakah logika menentang agama?


Semua bertasbih kepadaNya

  1. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepadaNya. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan PujianNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Asro’44).
  2. Moga Ia Ampuni segenap dosa di malam ini, jadikan esok lebih ceria dan bahagia … Moga pula ia bukakan tabir hingga hati ini seolah mendengarkan tasbih segala sesuatu padaNya. Amien Amien Amien

Kumala

sepoi sejuk angin Gunung

bertiup lembut mengusir embun

andai masuk dingin Lembayung

meresap lembut merobek gaun

tiada tiada yang bersulangan

tiada tiada yang bertarian

Rembulan dan bintang bersulangan

Cahaya Surya yang bertarian

oleng kapal-kapal diterpa ombak

remuk layar-layar dihempas badai

dunia adalah Samudra Ombak

meremuk jiwa-jiwa tergadai

cahaya menari kilau dan pantul

berdetak-detak terciprat indah

Tuhan berkaca cahaya menari

bersorak-semarak Intan-Sumirah

tak puak nyiur enggan melambai

tak juga enggan angin bertiup

Tak ragu rakit melawan badai

Walau taufan dan leysus bertiup

buah nangka buah delima

manisnya nangka merahnya delima

tiada lagi duka nestapa

suka dan duka nangka delima

riak-riak pantun cahaya

rubaiat pantun bercahaya

sorak-sorai hati cahaya

dengan pantun ia menyala

indah-indah buih melompat

terpercik indah kali mengalir

rubah-rubah Kasih melompat

ribuan rubah di padang mengalir

Satu rubah satu kelinci

berlari rubah mengejar kelinci

Seribu Rindu Satu Perawan

membadai Rindu Menghempas Perawan

tujuh gelungan satu giok kumala

tujuh kunciran ikal rambut kumala

mencari anjungan sampan kumala

tanah dan pantai pun lenyap tiada

sejauh cakrawala meninggalkan satu garisnya

dan samudera enggan membuihkan ombaknya

Sampan kumala mengarungi samudera

Tujuh alam dan ribuan samudera

Causality and Correspondence

The framework of his order of the entire science and science. Nothing more and nothing less. That is the principle of causality.
When Newton saw an apple fall, it is said, he thinks there must be something that embodies the fall of an apple. This was the one who necessitates the existence of gravity in physics. When Mendell see the regularity of nature - the nature of heredity, he thinks there must be something that embody the regularity of nature - the nature of heredity. Confidence is growing theory of genetics.
Causality principle reads,

"Everything needs because to him - there, except existence itself." The first important property of causality is harmony: that is one reason that the same will produce the same result. In addition it is the nature kesemasaan cause and effect, and the existential nature of the relation between cause and effect.

The principle of causality is the fundamental law of nature. Because without accepting the principle of causality as a basic law of nature, which is one of the very properties of being, it is impossible to single any law necessitates a general nature for nature.

And he is not the result of "correspondence" or "link-relations" conducted by people on the basis of experience inderawinya ratio, as it is said by some people. Because even all sensory experiences lose its meaning, even the whole material universe could not exist without ditahkik accept the principle of causality beforehand.

And how can some people it describes the case - corresponding things over and over - again but not believed to have a causal relationship. For example, night came after lunch and after lunch came the night. Why did no one think that the day was the cause tonight is the cause of day and night?

So, must be accepted into - objectively - the principle of causality, and believes that this principle is not just psychological principles. So with the eyes of causality must necessarily accepted the existence of the cause of all this material universe, which certainly is not the nature of matter itself, or part of it, because the material is not necessarily always require the existence of that reason for being. Really this is a bright evidence of the existence of immaterial nature, which some people call it the spiritual nature or natural intelligebles. As physicists believe in the existence of electrons? Or lighter again?

For All For

Is Efficient For He is everything, start at the beginning, or whether He is the reason for the Final (see also; Nihayah final goal or end) of all things, The End of the End?

From, His Prophet Philosopher, Aristotle (teles), (according alfaqr a very low understanding);

* The existence of the whole movement, because there is no way the existence and meaning of existence known effect (atsar it) on others, and can not know the effect on others when it all together without distinction (see also: change or motion) towards each other .
* All movements require a driver (drivers), there can be no movement without a mover, because if any, movement by movement into non-identical.
* If every movement requires activator (mover), and if all moves are driving, the driver need too, it's not chain-driven movement as possible, movement-driven, motion-driven, ...., have no end, because if this would be nil deplete all of its motion. But-prime mover must reach, the First Mover, mover who does not move, so it does not need drivers anymore.
* Perhaps the first mover is more than one, because if there is more than the first mover means that the first mover will have an effect on the first mover, because there is a way to give effect to the other. That is, the first mover will move toward one another first mover, so that the first mover is moving, not the meaning of driving that is not moving, the alias is not the first mover. And if everything is not the first mover, means that all movements (see also; existence) nil.
* First Mover (prime-mover) is the last movement (Nihayah) of the whole movement (see also, presence), because he himself is the perfect actuality without potential, never moving more refined into something more perfect than himself, al-ghoniyyu al-hamiidu, does not require anything other than himself, al-hayyu al-qoyyuumu, and He has qooimun a qooimun bidzaatihi Binafsihi or natural.
* Only possible for non-actuality of the potential of the Perfect, Most Rich, do not need anything else other than himself, is an intellectual activity. So, philosophers and Sufis believe that everything besides Him is imaginary. He has "shadow" itself by itself, so that the essence of all motion is a shadow of itself. Therefore, how can this potential for dust fiction know Him and praise Him?

Thou, O God, as You have praised Yourself. Thou, O God, as you radiate Yourself. Thou, O God, like you I Self makrifati. Since you first of all an end early, and Nihayah from all Nihayah. You're Perfect, and do not touch your skin perfection fold. A You're Rich, and not touching poverty. You're Living, and not touching the dead. Your Eternal it, and never touched the dead. You Stay That one, and not touching the change. You are now like you yesterday and tomorrow. You're One Who and none other than Thee. Glory to Thee from all of their attributes.

Achieving Prosperity, Longevity and Happiness Through the World and the Hereafter Silaturrahim


We're in an era that really fulfilled paradox. Survey statistics on happiness turned out to show 90% of people who are not happy materially successful. Gene Richard Niemi, John Mueller and Tom W. Smith in Trends in Public Opinium: A Compendium of Survey Data in 1998 reported that "250% increase in earnings in the last four decades in the United States did not increase the happiness and satisfaction with their lives, even down.

Competition and the pursuit of success based on the values of materialism proved to bring men to emptiness and false success. They bring modern humans lose their meaning, too busy to love, too busy to care (too busy to care), and Dysthymia.

Development of a genuine and sincere friendship to make prosperity can be achieved without sacrificing the spiritual happiness. Friendship makes us richer and prosperous, both physical and spiritual. A man said to the Prophet, "I want my God loves me. He said: "Love yourself and love all God's creatures. Later God will love you. "In an another report: "By What I am and in His hands, will not enter Paradise who is not loved. The Companions said, "We have all these people who loved"The Prophet said, "No ... before you love all creatures."

Further, the Quran commands us to maintain our compassion more specifically on the family: "Yaa ayyuhan naasut taquu robbakumulladzi kholaqokum min nafsin waahidah kholaqo minhaa zaujahaa wa wa wa batstsa minhuma rijaalan katsiiron nisaa'an wattaqulloohalladzii tasaa'aluuna bihi wal arhaama, innallooha kaana alaikum roqiibaa. "(O mankind, bertaqwalah you to Tuhamnu who has created you than one self, and God created the spouse thereof, and propagate from both men and women who are many, and bertaqwalah to God that you so request by (refer to name) His, and (guard relationships) family. Verily Allah is very concerned about you.

Obtained by someone through friendship

In the Sunnah: Fear Allah and plug it further perpetuates familial silaturrahim you in the world and good in the hereafter (Kanzul 'Ummal 6911) Silaturrahim make the family prosperous, adding age, although the perpetrators are not good people (Al Bihar 74:94). There is one nation who included those who were disobedient, not the pious people. They connect the family then their wealth increases, the length of their age. Especially if they had the wrong person and a good (Al Bihar 74:126). Silaturrahim and virtue relieve reckoning (examination of God) and cleanse sin. Brotherhood hook you, do bajiklah brother from you even with a nice greeting or just give an answer (Al Bihar 74:131).

Those who connect the Silaturrahim and the remaining three years of age live longer. Then God extend the age of thirty years. Or he decides Silaturrahim and the remaining thirty years of age, then God turned it into three years. Then the Messenger of Allah read the verse:

Eliminate God what He will and sets (what He wills), and at his side there was Umm-Book (Lauh Mahfuz). (Surat al-Ra'd: 39).

If you break the friendship

There are three people who will not enter paradise: one who constantly drink, the believers who do magic, and who decides silaturrahim (Al Bihar 74:90). Truly God's grace does not come down to one in which there is the one who decides silaturrahim (Kanzul Ummal 6978). One day Ali ibn Abi Talib as prayed: "I seek refuge in Allah from the sins of the accelerating destruction. Abdullah bin Al-Kawwa asked: "O Amir al-Believers, if there is sin that accelerate the destruction?" He replied: "Yes, decided silaturrahim".

To understand the broader context of friendship, it is interesting to quote one of Muhsin Qara'ati interpretation of Sura Ar-Ra'du Verse 21: Walladziina yashiluuna amarolloohu bihii an yuushola maa ... (And the people whom Allah commanded to connect what is connected ...), ascharacteristic Ulul Albab . According to him, other than familial ties, we also must always connect the relationship and maintain a relationship following in:Scholarly relationships with scientists and scholars (then ask the people of knowledge if you do not know it) (Surat an-Nahl 43).
  1. Silaturrahim not enough just to come face to face alone, helping financially also part of silaturrahim. There is a hadith saying: "In the human treasures other than any obligation of zakat is also the rights of others who should be given their rights. "
  2. Multidimensional relationship with the people who believe (in fact the believers are brothers) (Surah Al Hujurat 21).
  3. Spiritual relationship with the guardian-the guardian of God, (Verily it has been present in the Messenger of good role models) (Surah Al Azhab 21)
May He give us Taufiq, guidance and strength to always connect, maintain and improve our Silaturrahim from time to time. Amen


6 Responses to "Reach Prosperity, Longevity and Happiness Through Silaturrahim world and the hereafter"